Ilustrasi

Terima kasih burung camarAda yang aneh yang terjadi setiap hari Jumat petang di sebuah pantai. Ketika matahari hampir terbenam, seorang pria tua yang masih terlihat tegap tubuhnya berjalan-jalan di tepi pantai itu menuju ke dermaga favoritnya. Di tangannya tergenggam sebuah wadah berisi udang.

Si pria akan berjalan hingga ke ujung dermaga yang sunyi, tak seorang pun nampak di sana. Sepertinya si pria akan menikmati pemandangan matahari terbenam itu sendirian saja. Namun, tak lama kemudian dari ketinggian langit tampaklah ribuan noktah putih yang mendekat ke bumi dengan suara ribut. Semuanya terbang menuju ke satu arah yang sama, ke ujung dermaga, kepada seorang lelaki tua bertubuh tegap itu.

Belasan burung camar kini beterbangan sambil mengepak-ngepakkan sayapnya di sekitar pria tua itu. Lalu si pria meraih ke wadah yang dibawanya dan mengangkat telapak tangannya yang penuh udang untuk memberi makan burung-burung camar itu. Dan sambil melakukannya, pria itu akan bergumam seraya mengembangkan senyum, “Terima kasih..terima kasih!”

Hanya dalam beberapa menit saja wadah berisi udang itu kosong. Namun si pria tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri. Ia akan ada di sana selama beberapa saat, memandangi burung-burung camar itu, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lampau…masa di mana ia dulu bergabung di angkatan udara dan menjadi kapten pada Perang Dunia II. Namanya Eddie Rickenbacker. Ia bersama tujuh orang orang lainnya tengah terbang melintasi samudra Pasifik ketika pesawat yang membawa mereka tiba-tiba jatuh ke laut.

Seluruh penumpang selamat. Mereka mencoba keluar dari reruntuhan pesawat dan menaiki perahu karet. Kapten Rickenbacker bersama ketujuh awaknya mengapung di samudra yang luas selama berhari-hari. Mereka harus berperang melawan panasnya matahari, melawan ganasnya hiu, namun di atas semuanya mereka harus memerangi rasa lapar.

Mencapai hari ke delapan, mereka sudah kehilangan akal, tak mampu berpikir dengan jernih lagi. Tanpa makanan, tanpa air minum, ratusan mil dari daratan dan tak ada seorang pun yang tahu di mana mereka berada. Yang mereka butuhkan saat itu adalah KEAJAIBAN.

Maka mereka berdelapan berpegangan tangan, dan berdoa bersama-sama dengan khidmat, memohon mukjizat dariNya. Lalu karena kelelahan, mereka mencoba untuk tidur sejenak. Eddie sendiri mengambil posisi bersandar pada perahu, lalu ia menarik pinggiran topi pet militernya ke arah hidung, untuk melindungi wajahnya dari sengatan matahari. Waktu pun berlalu, suasana sepi tatkala semuanya jatuh tertidur. Yang terdengar hanyalah suara ombak menghempas dinding perahu.

Tiba-tiba Eddie merasa ada sesuatu yang mendarat di atas topinya. Seekor burung camar! Eddie mendapat akal. Ia duduk diam selama beberapa saat sambil merencanakan langkah selanjutnya. Dengan gerakan secepat kilat tangannya berhasil menangkap burung camar malang yang berkoak-koak itu. Ia memilin lehernya, lalu mencabuti bulunya, lalu ia dan awaknya yang kelaparan membuatnya menjadi hidangan makan mereka. Sedikit sekali memang daging seekor burung untuk delapan orang, namun mereka menyisakan jeroan burung itu sebagai umpan.

Dengan umpan itu mereka berhasil menangkap beberapa ekor ikan, yang memberi mereka makanan yang cukup dan lebih banyak umpan lagi. Dengan umpan-umpan itu mereka menangkap lebih banyak lagi ikan, dan siklus itu berulang terus hingga 16 hari berikutnya, ketika sebuah kapal akhirnya menemukan dan menyelamatkan mereka.

Sejak saat itu Eddie tak pernah melupakan pengorbanan seekor burung camar yang telah menyelamatkan seluruh penumpang perahu itu dengan nyawanya. Karenanya, Eddie selalu menyempatkan diri untuk mengucapkan ‘Terima kasih’ pada burung-burung camar di tepi pantai….

********

Janganlah pernah kita merasa apatis terhadap mukjizat Tuhan. Janganlah pernah kita meremehkan kekuatan doa, dan janganlah pernah berhenti berharap bahwa Tuhan akan mengirimkan bantuan di saat yang tepat.

Sumber: dari buku berjudul 'In The Eye Of The Storm'