Sharing
Perayaan Ekaristi Hari Minggu Sabtu: 18.00; Minggu: 06.30, 08.30, 17.00
Perayaan Ekaristi Harian Senin - Sabtu: 05.30

Merenungkan khotbah Romo dalam Perayaan Ekaristi Minggu Adven III tentang kerendahan hati Yohanes Pembaptis--yang meskipun berperan penting dalam mempersiapkan kedatangan Yesus namun tetap merasa bahwa ia bukan siapa-siapa (bahkan membuka tali kasut Yesus pun ia tak layak), membuatku teringat akan beberapa pengalamanku sendiri, yang ingin ku-sharingkan di sini...

Bicara tentang rendah hati itu gampang. Tapi sungguh, untuk benar-benar menjalankannya...sungguh sangat sulit! Apalagi kalau orang-orang di sekitarmu suka memuji-muji dirimu. Begini.. aku adalah seorang lektor yang lumayan sering bertugas di Perayaan Ekaristi. Banyak orang bilang suaraku bagus. Kalau kau terus-terusan dipuji, lama-lama kau pasti akan berpikir bahwa suaramu memang bagus kan? Nah, suatu saat ada lomba lektor tingkat Paroki. Aku diutus oleh wilayah (atau lingkungan ya? aku lupa..). Yang jelas, sebelum lomba aku sudah pede bahwa aku pasti menang, entah no. 1 atau paling jelek no. 3. Namun, apa yang terjadi?

Saat lomba, aku yang biasanya selalu lancar saat bertugas pada Perayaan Ekaristi, tiba-tiba otakku blank. Detik itu juga aku lupa bacaan dan ayat yang harus kubaca, sehingga ketika suaraku keluar, aku membacakan ayat itu dengan terbata-bata. Begitu awalnya tidak mulus, selanjutnya bacaanku kacau. Jelas sudah, aku tidak berhasil menang. Tiba di rumah, aku merenung. Mengapa tadi aku sampai tampil seburuk dan se-memalukan itu? Tiba-tiba, ada suara dalam hatiku yang mengatakan: "Itu karena kamu membawakan sabda Tuhan untuk memang lomba, bukan untuk mewartakan Sabda Tuhan itu sendiri."

Deg!

Di lain peristiwa, aku diberi tugas untuk membawakan sabda Tuhan pada suatu Perayaan Ekaristi Malam Paskah. Aku berlatih habis-habisan, bertekad untuk menyuguhkan yang terbaik yang kumampu. Sayangnya hingga pagi hari-H itu, aku merasa performaku belum bagus juga. Entah bagaimana, aku merasa tak mampu "masuk" ke dalam bacaan yang cuma satu paragraf itu. Putus asa dan agak panik karena waktu untuk tampil sudah dekat, aku lalu berdoa dengan sepenuh hati. Aku memasrahkan kepada Tuhan, terjadilah apa yang Tuhan kehendaki, karena aku sepertinya tak mampu.

Ternyata setelah misa, pelatihku dan orang tuaku malah berkata bahwa bacaan yang kubawakan tadi begitu mengena. Memang saat membaca, aku merasakan hal yang aneh. Sepertinya, di saat aku mau meninggikan volume suaraku, suaraku malah jadi lirih. Saat aku mau mempercepat tempo membaca, tempo dalam suaraku malah melambat. Aneh sekali, kupikir penampilanku pasti kacau balau deh.

Saat pulang dan merenungkan peristiwa hari itu, lagi-lagi aku seolah mendengar suara dalam hatiku: "Roh Kuduslah yang tadi membimbing kamu. Jangan membaca menurut apa yang kamu anggap terbaik, tapi biarlah Roh Kudus yang menuntunmu, karena Ia-lah yang tahu apa yang terbaik."

Deg! lagi...

Dua peristiwa itu menyadarkan aku. RENDAH HATI, itulah yang diminta oleh Tuhan saat kita mau melayani Dia. Bukan performa yang cemerlang, bukan teknik yang canggih. Yang harus kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin, lalu membuka hati kita, dan membiarkan Roh Kudus yang menyempurnakan usaha kita sesuai kehendakNya.

Sejak saat itu, aku berulang kali berkata dalam hatiku: "Aku bukan siapa-siapa, aku tak mampu melakukan apa-apa tanpa Tuhan. Aku cuma manusia kecil yang tak berguna. Kalau orang bilang penampilanku bagus dsb, itu semata-mata Roh Kudus yang berkarya dengan memakai jasmaniku, dan yah...mungkin ditambah dengan sound system Algonz yang bagus..."

Kalau kita mau melayani Tuhan, RENDAH HATI-lah! Karena kalau tidak, jangan-jangan yang kita layani bukannya Tuhan, melainkan EGO kita sendiri!

Dikirim oleh: seorang umat & lektor di Paroki Algonz