Visi & Misi

Dalam fungsi pelayanan ini mau ditandaskan bahwa Gereja itu disebut setia kepada panggilannya jikalau Gereja mau melibatkan dirinya dalam masalah-masalah duniawi dari hidup manusia sehari-hari, tidak dengan menguasai tetapi dengan membantu dan melayani. Melalui pelayanan duniawi ini Gereja tidak mau menjadikan dirinya terlalu sibuk dengan masalah-masalah rohani semata, melainkan menjamin agar perhatiannya kepada dunia tetap terbuka, dunia yang tetap dicintai Allah. Gereja melibatkan diri dalam kegembiraan, duka dan kecemasan dunia (bdk. GS art 1). Fungsi diakonia dapat diemban dengan baik bila memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

2.5.1 Melihat Tanda-Tanda Jaman (lih. VMKS hal. 29)
Gereja harus selalu melihat "tanda-tanda jaman" agar dapat melihat apa yang menjadi arah, apa yang sesungguhnya terjadi di dunia atau masyarakat di mana Gereja itu berada. "Untuk menunaikan tugas seperti itu, Gereja selalu wajib menyelidiki tanda jaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil." (GS art. 4). Di sini Gereja mendukung riset dan penelitian baik yang dilakukan oleh Gereja sendiri maupun yang dilakukan oleh orang / institusi lain yang berkompeten. Dalam praksis kehidupan paroki, seksi-seksi seperti Katekese, kerawan dan Litbang dapat mengemban tugas ini dengan dukungan penuh oleh Pastor Paroki dan Dewan Paroki. Ceramah-ceramah dan seminar / sarasehan dapat membantu umat untuk "membaca tanda-tanda jaman" dengan lebih baik.

2.5.2. Punya Kepedulian pada Sesamanya (lih. VMKS hal. 29, 30)
Kepekaan sosial, kepedulian pada orang lain, adalah suatu keutamaan yang sangat dibutuhkan pada jaman sekarang ini, di mana ada kecenderungan gaya hidup individualis, sikap acuh tak acuh, terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar. "Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku" (Mat 25:45). Dalam kehidupan berparoki kepedulian kepada sesama dapat dibangun lewat dialog-dialog baik itu dialog karya yaitu pertemuan dengan orang lain melalui karya, dan dialog kehidupan yaitu pertemuan dengan orang lain, berinteraksi secara positif, tanpa mempersoalkan perbedaan agama dan kepercayaan mitra dialog.

2.5.3. Terutama yang Kecil dan Menderita (lih. VMKS hal 30)
Perhatian khusus kepada yang kecil dan menderita perlu dilakukan karena golongan inilah yang sering diabaikan orang lain. Pedoman Gereja Katolik Indonesia tahun 1995 mencatat:"Upaya membantu orang kecil memerlukan pembaharuan kepekaan sosial. Usaha ini memerlukan kesediaan bertobat. Kita perlu menyumbangkan tenaga, dana, sarana, waktu dan hati kepada orang kecil agar mereka dapat berperan positif di dalam jemaat dan masyarakat, mereka krasan bersama paguyuban kita dan mampu berusaha memperbaiki kesejahteraan mereka sendiri" (PEDOMAN No. 55). Dalam kehidupan paroki, Seksi Sosial dapat memfasilitasi usaha-usaha karitatif dan pendampingan lainnya baik di tingkat paroki maupun di lingkungan-lingkungan bersama Komunitas Basis yang dikembangkan bersama.

2.5.4. Memperjuangkan Penegakan Keadilan
Ini seharusnya menjadi puncak dari seluruh fungsi diakonia yang diemban Gereja masa kini, sebagai wujud pertanggung-jawaban terhadap pelaksanaan Tri Tugas Kristus, demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia. Dunia yang penuh ketidakadilan menjadi ajang pewartaan murid-murid Kristus, sama seperti maklumat Yesus pada pembukaan pelayanan-NYa di muka umum: "Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku. Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku untuk memberikan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk 4:18-19). Dalam kehidupan paroki, fungsi ini dilakukan secara terintegrasi, baik lewat liturgi dan katekese, juga pelibatan semua seksi-seksi dalam merancang kegiatan-kegiatannya yang senantiasa berperspektif keadilan.