Visi & Misi

Paguyuban mau menekankan mutu dari hubungan antar pribadi dan Allah dan antar pribadi satu sama lain. Tekanan adalah pada hubungan yang erat dalam arti persaudaraan, pada kebersamaan di antara pribadi-pribadi, untuk mengungkapkan iman sebagaimana tampak dalam kehidupan Gereja Perdana, "Semua orang yang menjadi percaya tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama" (lih. Kis 2:44). Inilah yang disebut persaudaraan Injili. Bentuk persaudaraan Injili ini yang telah disepakati untuk dikembangkan menjadi Komunitas Basis, sebagai arah pemberdayaan umat Katolik Indonesia, yang telah disepakati oleh Uskup dan umat dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia Tahun 2000 (SAGKI 2000). Komunitas basis semacam itu bersifat transformatif, karena melalui komunitas semacam itu kita bertekad merubah diri dan mengubah kondisi kehidupan dari tidak sejahtera menjadi sejahtera, dari tidak mempunyai akses terhadap sumber kehidupan, dari tanpa kesadaran kritis menjadi lebih kritis, dari lemah karena tidak bersatu menjadi kuat karena persatuan. (lih. Makalah Bapa Uskup Surabaya: "Oleh-Oleh Sidang KWI th. 2001" dalam pertemuan para Pastor Paroki dan Dewan Paroki Regio I, November 2001, di Aula Paroki Redemptor Mundi, Surabaya).
Dalam praksis pengelolahan paguyuban yang berorientasi Komunitas Basis perlu menerapkan pola-pola transformatif sebagai berikut:

2.3.1. Manusia: Subyek Utama
Perencanaan pastoral dalam bentuk apapun, penempatan manusia sebagai subyek utama dalam program-program pastoral harus diperhatikan, sebab manusia adalah gambaran Allah (bdk. Kej 1:12). Uang dan materi harus digunakan sebesar-besarnya bagi pembangunan manusia itu sendiri, termasuk memperhatikan mereka yang lemah, miskin dan sakit. Komitmen hidup berpaguyuban harus jelas dalam program, yaitu bukan mengutamakan pembangunan fisik tetapi manusia. Sebab apa gunanya kita memiliki seluruh dunia, tetapi oleh karenanya kita menjadi manusia binasa? (bdk. Luk 9:25). Maka untuk mendayagunakan yang dan materi secara tepat dan bertanggung jawab, perlu diperlakukan sistem pengelolaan uang yang transparan dan akuntabel.

2.3.2. Relasi dan Komunikasi: Prasyarat Utama
Paguyuban disebut hidup bila relasi dan komunikasi terjadi di antara para anggota paguyuban. Entah itu melalui rapat, pertemuan doa, pendalaman iman, kunjungan ataupun lewat telepon dan internet, agar diperhatikan sungguh-sungguh. Paroki menerbitkan "Warta Paragonz" secara lebih profesional untuk mengemban misi ini pula, sebagai komunikator dan dinamisator Komunitas Basis.

2.3.3. Fokus: Transformasi / Metanoia / Pembaharuan / Pertobatan
Paguyuban hanya mempunyai dampak pertobatan, bila pembaharuann terjadi dalam diri masing-masing anggota, pembaharuan terjadi dalam relasi dengan sesama, dan pembaharuan terjadi pula dalam hubungan dengan golongan dan struktur masyarakat. Dengan demikian hidup paguyuban kristiani tidak lagi berpusat sekitar perayaan sakramen melulu, atau sekitar hirarki dan birokrasi Gereja, tetapi berpijak pada keprihatinan masyarakat dan pada nilai-nilai Kerajaan Allah (lih. Bahan APP 2001, Komisi PSE, KWI).

2.3.4. Pola kepemimpinan: Kolegial - Partisipatoris
Kepemimpinan dalam paguyuban adalah sangat penting yang berfungsi sebagai penunjuk arah, motivator. Namun pola kepemimpinan yang diterapkan adalah pola kolegial partisipatoris, artinya pola "kerekanan yang turut mengambil bagian" sebagai pemimpin. Bukan lagi pola klerikalis - otoriter (lih. 5 Kategori Perubahan, Kerangka Dasar APP 2001, Komisi PSE-KWI). Akar dari pola kepemimpinan ini adalah konsep Gereja Umat Allah (LG 11, 14) yang oleh karenanya semua umat beriman tanpa kecuali mengambil bagian dalam tiga misi Kristus sebagai imam, nabi, dan raja (LG 31). Namun perkembangan iklim demokiratisasi di dunia dewasa ini turut memberi pengaruh bagi pola kepemimpinan paguyuban Umat Allah secara positif.