Visi & Misi

Persekutuan umat Allah yang dipersatukan dalam wadah Paroki tidak dapat secara maksimal mewujudkan cara hidup kristiani secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, di mana mereka dapat berkumpul secara berkala dalam suasana kasih persaudaraan, mendengarkan firman Allah, berbagi suka duka dan pengalaman sehari-hari, memecahkan roti dan berdoa bersama (bdk. Kis 2:41-47; Kis 4:32-35; Rm 12:3-8; 1 Kor 11:17-34; Ef 4:1-16; 1 Ptr 2:1-5). Hal ini hanya dapat terlaksana dalam unit-unit kecil di lingkungan-lingkungan.

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 1-5 Nopember 2000, sangat menganjurkan perwujudan Komunitas Basis sebagai bentuk Gereja Indonesia masa depan, sehingga akan terbentuk Gereja sebagai persekutuan komunitas-komunitas, tanpa mengurangi peran Paroki sebagai fasilitator dan pemersatu. Pengembangan lingkungan-lingkungan dengan demikian diarahkan kepada terbentuknya komunitas-komunitas basis tersebut. Perubahan-perubahan mendasar yang perlu dilakukan untuk mewujudkan komunitas basis:

A. Berkaitan dengan Sikap Mental
Pola spiritualitas yang terlalu individualistik dan vertikal, dirubah ke pola religiositas yang memerdekakan, dari sikap mendominasi kaum perempuan ke kesetaraan martabat manusia, dari pola eksklusif ke keterbukaan terhadap saudara-saudara seiman maupun umat lain, dari liturgi yang ritualistik ke liturgi yang berpihak kepada kaum miskin, dari Gereja yang legalistik ke Gereja yang spiritual - profetis, dari eksploitasi lingkungan hidup ke pelestarian fungsi lingkungan hidup, dan dari sikap yang sibuk dengan diri sendiri ke sikap tanggap terhadap situasi bangsa dan negara.

B. Berkaitan dengan Struktur
Pola kepemimpinan pyramidal-klerikal, dirubah ke kepemimpinan kolegial partisipatif, yang melibatkan kaum muda, biarawan-biarawati, perempuan, dan kaum miskin dalam pengambilan keputusan.

C. Berkaitan dengan Pola Pendekatan
Pola pastoral yang berpusat oada Paroki, dirombak ke pola yang berpusat pada komunitas basis. Untuk itu dibutuhkan pola pendidikan calon imam dan biarawan/biarawati yang lebih terbuka dan memasyarakat (lih. Gereja Yang Mendengarkan, SAGKA 1-5 Nop. 2000, hal. 17-18).