Visi & Misi

Sejak awal didirikannya Paroki St. Aloysius Gonzaga sudah dirumuskan sebuah visi dan juga misi yang menjadi arah dasar ke mana Paroki ini akan bergerak. Namun Visi dan Misi yang indah, hebat, dan canggih seperti apa pun akan menjadi onggokan barang kuno tanpa makna kalau tidak pernah disosialisasikan, diupayakan perwujudannya, serta mendapat dukungan dari umat Allah. Ibaratnya kita hanya akan bermimpi dan bermimpi di tempat tidur, tanpa pernah mau bangun dan berjalan melintasi realita dan mengejar cita mimpi kita.

Ketika saya masuk ke paroki ini, saya menerima Visi dan Misi dan saya senang karena saya tidak mulai dari nol, namun betapa terkejutnya ketika saya memperkenalkan diri ke wilayah-wilayah bersama Dewan Paroki, umat sebagian besar tidak mengerti visi paroki ini, bahkan yang menjadi fungsionarispun tidak tahu menahu. Padahal menurut saya Visi yang sudah dirumuskan 17 tahun lalu itu haruslah dijaga dn dikawal, serta diupayakan perwujudannya, karena semua kegiatan gerejani di paroki ini akan bermuara ke sana. Ibaratnya kita dalam perjalanan, namun perjalanan kita yang sudah membuang energi, waktu, dan tenaga itu, masih jauh dari tujuan yang kita capai. Dengan kata lain kita sedang berjalan di tempat.

Begitulah kita sering terjebak dalam retorika dan jargon yang dirumuskan dengan semangat, tetapi semangat itu tiba-tiba hilang, bahkan lebih repot lagi tak tahu harus bagaimana ketika kita melangkah dalam mewujudkannya. Kita sering sudah puas dengan sebuah rumusan. Lebih parah lagi rumusan itu bisa diganti oleh siapa saja, atau dibiarkan oleh siapa saja yang tidak sepaham. Maka bila kita konsekuen, apa yang sudah dirumuskan sebagai Visi Paroki kita yaitu: GEREJA UMAT ALLAH, YANG BERPUSAT PADA YESUS KRISTUS, DAN BERAKAR DALAM KOMUNITAS JEMAAT LINGKUNGAN SERTA MAMPU BERDIALOG DENGAN MASYARAKAT, haruslah menjadi spiritualitas umat, minimal para fungsionaris dari tingkat lingkungan sampai tingkat paroki. Tulisan balik itulah yang sebenarnya menjadi pemandu arah harus ke mana paroki ini berjalan, dan itu harus disosialisasikan dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, paradigma baru tentang Gereja disebut sebagai Gerakan, yang ditekankan pertama-tama bukan sebagai lembaga. Tetapi sebagai Gereja yang bergerak dalam masyarakat, dalam dunia, yang mampu membawa daya penyelamat ilahi. Maka Gereja adalah sebuah peristiwa. Di mana Gereja ada, di situ harus terjadi sesuatu, yaitu perubahan ke arah perdamaian, keadilan, dan solidaritas nyata dengan orang-orang miskin. Sebagai gerakan, Gereja juga merupakan sebuah persaudaraan dalam kasih yang membangun paguyuban untuk bersama-sama membawa pesan Kristus ke dalam masyarakat.

Kita sebagai Gereja memang seringkali tampil dalam aneka pelayanan yang layak dipuji, tetapi seringkali tidak menyatu dengan gerak perjuangan masyarakat. Lebih parah lagi bahwa pelayanan kita itu hanya untuk mencari satu kata "WAH", sehingga meskipun satu atap yang disebut sebagai Gereja Katolik, tetapi bermacam-macam kelompok itu dirasa kurang kompak. Akibat yang lain Gereja menjadi terasing dari kehidupan masyarakat. Karena keterasingannya itu, Gereja tidak mampu mewartakan Injil dalam masyarakat. Oleh karena itu, agar mampu mewartakan Injil, Gereja pertama-tama harus menjadi Gereja lokal, yang sungguh menyatu dengan masyarakat setempat.

Dengan demikian kalimat dalam Visi Paroki kita, BERAKAR DALAM KOMUNITAS JEMAAT LINGKUNGAN, bukan hanya ke dalam tetapi juga ke luar dan menyatu dengan masyarakat setempat, menjadi Gereja yang membumi. Maka di sanalah perlunya dialog. Kata dialog ini sebagai kata kunci di dalam pembentukan Gereja yang berakar dalam lingkungan dan mampu berdialog dengan masyarakat setempat. Artinya juga Gereja berani meninggalkan pandangan yang berpusat hanya kepada dirinya, tetapi juga berani belajar dari kekayaan agama lain, serta mampu menanggapi persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat untuk dipecahkan bersama (membangun komunitas basis manusiawi).

Untuk saat sekarang ini, setelah 17 tahun paroki ini berdiri masih perlu usaha-usaha yang tekun dalam mensosialisasikan Visi dan mengusahakan melalui tahap-tahap untuk mewujudkannya. Personil-personil dari umat yang mempunyai keprihatinan dan komitmen terhadap gerak langkah majunya paroki ini sesuai dengan visi diperlukan keterlibatannya, supaya tidak berat sebelah. Karena di sisi lain ada kelompok kecil umat yang mau lari cepat, tetapi sebagian besar umat tidak mau berjalan. Perlu dicari upaya-upaya pendekatan supaya bisa konvoi bersama-sama. Sehingga bila ada jarak, jarak itu tidak terlalu jauh.

Maka kalau dikatakan bahwa Gereja harus partisipatif dan transformatif, bukan karena tuntutan dari luar dirinya, tetapi memang karena hakekat Gereja adalah bersifat partisipatif dan transformatif dalam konteks Gereja adalah bersifat partisipatif dan transformatif dalam konteks misteri keselamatan Allah yang menyejarah.

Wasana kata, bukan retorika, bukan khotbah dengan kata-kata, tetapi tindakan nyata, bagaimana menuju visi untuk juga meningkatkan iman kita. Kita tidak boleh puas sebagai aktivis paroki karena ikut mengurus paroki dan setiap hari pergi ke pastoran lantaran mengirim makan pastor. Mengurus paroki memang tanggung-jawab umat, tetapi panggilan awam sebenarnya lebih daripada itu, adalah menyucikan dunia, atau menjadi saksi keselamatan Kristus dalam masyarakat, melalui karya dan perbuatan. Maka Gereja yang memasyarakat di sana mempunyai maknanya. Itu semua tugas yang berat. Demikian juga untuk mewujudkan Visi Paroki, juga merupakan tugas yang tidak ringan. Menyadari itu semua, kita tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan diri kita sendiri. Sepandai, dan sehebat apa pun diri kita, tanpa menyadari campur tangan Allah dan Roh-Nya, kita akan tergelincir dalam kesombongan. Untuk itu, kita selayaknya dalam setiap upaya dan usaha baik kita, perlu memohon bantuan Rahmat Allah, campur tangan-Nya yang Kuasa, serta penyertaan Roh-Nya.

Semoga upaya-upaya baik kita, terutama dari Seksi Katekese yang berusaha mengaktualkan kembali Visi paroki kita mendapat berkat dan rahmat-Nya. Tuhan memberkati.

Surabaya, Oktober 2003

RD. Y. Eko Budi Susilo