Sejarah

oleh: Rm. I.Y. Sumarno

Pengantar

Ketika melihat Gereja St Aloysius Gonzaga (St. Algonz) kebanyakan orang akan berdecak, ”Ckckck Gereja kok aneh.” Aneh, karena berbeda dengan Gereja yang sudah ada di Surabaya. Apa latar belakang perbedaan dan apa ada makna khusus? Itulah yang penulis coba refleksikan dan tuangkan dalam makalah pendek sebagai rasa syukur atas HUT ke-25 Gereja Katolik St.Aloysius Gonzaga di tahun 2011 ini.

Gereja Aneh

Aneh sering berkonotasi negatif tapi bukan itu. Aneh, hanya kata lain dari “berbeda dengan yang lain” dan tidak berarti aneh-aneh. Berbeda karena belum pernah ada bentuk gedung gereja seperti itu di Surabaya. Yang  biasa ialah gereja berbentuk salib bila dilihat dari udara atau bentuk bujur sangkar.Tapi  Apa arti segi delapan itu dan apa maknanya bagi Umat Katolik Algonz?
Para pendiri (the founding fathers) punya gagasan pokok: bentuk gereja St Aloysius Gonzaga dibuat segi delapan. Tak terlalu mudah bersepakat di antara para pendiri. Namun dengan bantuan Allah, akhirnya semua sepakat bentuk gereja segi delapan. Kemudian diskusi sampai pada pemaknaan dari segi delapan tersebut. Beberapa makna segi delapan:

a. Imam Lebih Dekat Dengan Umat

Bentuk gereja berbentuk salib. Bentuk memanjang dari depan ke belakang, mempermudah pemimpin memandang umat, pandangan terfokus mulai depan ke belakang dan pandangan ke samping kiri dan kanan hanya sepintas saja. Bagian depan sisi kiri biasa untuk paduan suara (koor) dan sisi kanan untuk orang sakit agar lebih dekat, cepat terlayani. Ini bentuk salib.

Segi delapan punya banyak manfaat: antarumat lebih komunikatif, bisa saling memandang (pandangan setengah lingkaran). Umat bisa saling kontrol ketika berdiri, duduk, berlutut, bernyanyi, menjawab Imam. Imam terasa lebih dekat dengan umat, lebih terasa tatapan mata, mimik, gerakan Imam bisa dilihat. Kotbah lebih bisa dihayati karena melibatkan semua aspek: pendengaran, penglihatan, perasaan. Gereja yang memanjang seperti Kathedral: Imam tampak kecil, wajah Imam tak terlihat, umat tidak bisa melihat apa yang dilakukan Imam di altar seakan ada suara tak ada wajah, antarumat tidak bisa saling kontrol kecuali samping kiri-kanan-depan dalam satu bangku.

b. Delapan Penjuru Mata Angin

Gedung Gereja St. Aloysius GonzagaSegi Delapan menggambarkan delapan penjuru mata angin (utara-selatan-timur-barat, timur laut-barat laut-barat daya-tenggara). Segi Delapan mengandung makna holistik, universal maka Gereja Algonz menjadi tempat berkumpulnya semua umat Katolik dari segala penjuru wilayah, lingkungan. Melalui delapan pintu setiap umat masuk dan keluar tanpa antre. Karena gampang keluar maka ada yang memanfaatkan: sebelum berkat penutup Misa ada yang sudah kabur pulang.

c. Semua Orang Boleh Masuk

Semua umat Katolik bebas memasuki Gereja Algonz apapun kondisinya: moral, spiritual, psikologis, sosial. Orang berdosa-suci boleh masuk, orang beriman-belum beriman boleh masuk, orang stress-bahagia juga boleh dan diharapkan masuk, orang yang dikucilkan sesama karena namanya buruk juga boleh masuk Gereja Algonz. Terbuka untuk semua orang dengan segala kondisinya dan berharap agar mereka menjadi baik setelah berdoa, dan setelah merayakan sakramen-sakramen mereka mengalami pencerahan iman.

d. Semua Pemeluk Agama

Siapa saja boleh masuk Gereja Algonz meski beragama non-Katolik. Gereja Algonz terbuka untuk semua umat beragama: umat Islam, umat Hindu, umat Budha, Konghucu, Yahudi sekalipun boleh masuk, boleh berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing, hanya jangan mengganggu orang lain. Juga terbuka untuk semua umat Katolik meskipun dari paroki lain dalam kota atau paroki luar kota Surabaya. Sifat Universal Gereja menjadi jelas. Tanda pendukung “Gereja Segi Delapan” tampak dalam jumlah pintu yang ada: empat pintu di sisi Timur, empat pintu di sisi Barat, dan tiga  pintu utama di tengah. Umat bisa dengan cepat masuk dan keluar, tanpa macet.

Peran Dalam Masyarakat

Semangat Universalitas Gereja Algonz secara berani tampak ketika seorang tokoh Islam berkotbah di mimbar Gereja Algonz: KH Said Agil. Ia sedang berkampanye agar memilih presiden dengan menggunakan hati nurani, Pilihlah presiden sesuai hati nurani Anda. Maka secara spontan komentar sumbang bermunculan. Komentar sumbang muncul karena dianggap “aneh”. Namun semenjak Gus Dur sebagai presiden, Gereja Algonz sering sebagai tuan rumah penyelenggara acara keagamaan bernuansa Islami, misal: Buka Puasa Bersama, dengan acara pokok: Ceramah, Sholat dan Buka Puasa bareng (Islam, Katolik, Kristen, Hindu yang tergabung dalam FKUB).

Terdorong rasa prihatin akan kondisi sosial masyarakat yang tercabik-cabik maka terbentuklah Masyarakat Pelangi, yakni sebuah forum kerukunan antar umat beragama. Masyarakat Pelangi terbangun karena keprihatinan akan permusuhan dan kekerasan yang cenderung meningkat di masyarakat lantaran perbedaan keyakinan dan ideologi. Konflik horizontal antar umat beragama atau antar aliran keyakinan dengan sangat mudah terjadi. Masing-masing pihak merasa paling benar sehingga mereka saling mengafirkan. Semangat persaudaraan dalam berbedaan keyakinan atau agama sangat tipis.  Maka muncul Masyarakat Pelangi guna membangun kerukunan dan damai antarumat beragama, yang dilengkapi dengan aktivitas konkret, antara lain: saat Hari Raya Idul Adha, Gereja Algonz memberi binatang korban (sapi) untuk dibagikan kepada semua umat Islam yang berhak; saat bulan Romadhon (Puasa) ada acara buka puasa bersama dengan mantan Ibu Negara (Ibu Shinta, Istri Gus Dur) di halaman Gereja Algonz dan ada bentuk lain: membagi-bagikan nasi bungkus (400-500 bungkus) kepada abang becak di jalan-jalan. Demikian juga saat Perayaan Natal & Paskah Masyarakat Pelangi ikut menjaga keamanan.

Karena sifat Universal itulah Gereja Algonz mempunyai semboyan: Garam dan Terang Dunia. Semboyan tersebut bersumber dari Kitab Suci, Injil Matius 5:13-16.

Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa-mu yang di surga”.

Menjadi Garam dan Terang Dunia terpancar ke seluruh penjuru mata angin dan kepada semua makhluk tanpa pandang agama dan kondisi moralnya. Seperti sinar matahari bersinar ke bumi, menghangatkan semua lapisan bumi tanpa kecuali. Seperti garam dalam sayuran akan memberi rasa sedap kepada setiap sayur tanpa kecuali. Semangat seperti “terang dan garam” menjiwai seluruh karya umat bagi keluarga, gereja dan masyarakat.

Semoga di hari bahagia merayakan HUT ke-25 Gereja Algonz tambah bersemangat mewujudkan Terang dan Garam sehingga akhirnya umat seluruhnya menjadi murid-murid Kristus yang dewasa dalam iman, guyup, penuh pelayanan dan misioner. Semoga.

Dirgahayu Gereja St Aloysius ke-25
Semoga senantiasa Berkembang Dalam Iman dan Pelayanan
Terang dan Garam Dunia