St. Yohanes Maria Vianney

Katekese tentang Dosa - Bagian IIIKalian lihat, anak-anakku, betapa dosa merendahkan martabat manusia. Dan malaikat yang diciptakan untuk mencintai Tuhan, karena dosa menjadi iblis yang mengutuk Tuhan untuk selama-lamanya. Ah! andai saja Adam, leluhur kita yang pertama, tidak berdosa, dan andai saja kita tidak berbuat dosa setiap hari, alangkah bagagianya kita! Pastilah kita sama bahagianya dengan para kudus di surga. Tak akan ada lagi orang-orang yang bersedih di dunia ini. Oh, alangkah indahnya! Sesungguhnya, anak-anakku, dosalah yang mendatangkan bagi kita segala macam malapetaka, segala bencana, perang, kelaparan, wabah, gempa bumi, kebakaran, banjir, badai - segala yang membuat kita menderita, segala yang yang membuat kita sengsara. Lihat, anak-anakku, orang yang berada dalam dosa akan senantiasa sedih. Apa pun yang ia lakukan, ia letih dan muak dengan segalanya; sementara ia, yang berdamai dengan Allah, senantiasa penuh sukacita… Oh, indahnya hidup! Oh, indahnya kematian!

Anak-anakku, kita takut akan kematian; aku percakan akan hal itu. Dosalah yang membuat kita takut akan kematian; dosalah yang menjadikan kematian itu menakutkan, mengerikan; dosalah yang menggetarkan para pendosa saat ajal menjelang. Sayang! O Tuhan! Ada cukup alasan untuk merasa gentar, beranggapan bahwa ia orang terkutuk - dikutuk oelh Tuhan! Kenapa? Apakah yang dilakukan orang hingga ia dikutuk oleh Tuhan? Karena hujat, karena pikiran jahat, karena sebotol anggur, karena dua menit kesenangan! Karena dua menit kesenangan, orang kehilangan Tuhan, orang kehilangan jiwanya, kehilangan surga selamanya! Kita rindu menuju surga, dengan tubuh dan jiwa, di mana ayah, ibu, saudara, tetangga, mereka yang tinggal bersama-sama kita di sini, dengan siapa kita hidup, tetapi yang teladannya tidak kita tiru; sementara kita diturunkan dengan tubuh dan jiwa untuk dibakar di api neraka. Setan-setan akan segera mengerumuni kita. Semua setan-setan itu, yang nasehat-nasehatnya kita taati, akan datang menyiksa kita.

Anak-anakku, jika kalian melihat orang mempersiapkan setumpuk besar kayu bakar, menumpuk berkas-berkas kayu satu di atas yang lainnya, dan ketika kalian bertanya kepadanya apa yang sedang ia lakukan, maka ia akan menjawabmu, “Aku sedang mempersiapkan api yang akan membakar habis diriku,” bagaimana pendapat kalian? Dan jika kalian melihat orang yang sama ini menyalakan api ke atas tumpukan kayunya, dan ketika api unggun telah menyala maka ia melemparkan diri ke dalamnya, apakah yang hendak kalian katakan? Itulah yang kita lakukan ketika kita berbuat dosa. Bukan Tuhan yang mencampakkan kita ke dalam neraka, kita sendirilah yang melemparkan diri kita ke dalam neraka dengan dosa-dosa kita. Jiwa-jiwa sesat akan berkata, “Aku telah kehilangan Tuhan, jiwaku, dan surga; karena kesalahanku yang paling menyedihkan!” Ia akan berusaha mengakat dirinya dari kobaran api hanya untuk jatuh kembali ke dalamnya. Ia akan senantiasa memiliki kerinduan untuk mengangkat dirinya kembali sebab ia diciptakan untuk Tuhan, yang paling agung, yang paling sempurna, yang Mahatinggi… ia bagaikan seekor burung yang dikurung dalam sebuah ruangan, yang terbang ke atas langit-langit dan jatuh kembali, keadilan Tuhan adalah langit-langit yang menahan jiwa-jiwa yang sesat.

Tak ada gunanya membuktikan keberadaan neraka. Kristus sendiri berkata tentangnya, ketika Ia menceritakan kisa tentang seorang kaya yang jahat yang berteriak, “Lazarus! Lazarus!” Kita tahu pasti bahwa neraka itu ada, namun demikian kita hidup seolah-olah neraka itu tidak ada, kita menjual jiwa kita demi beberapa lembar uang. Kita menunda-nunda pertobatan kita hingga saat ajal menjelang; tetapi siapakah yang dapat meyakinkan kita bahwa kita akan memiliki waktu atau kekuatan pada saat yang menentukan itu, yang ditakuti oleh semua para kudus - ketika seluruh neraka bersatu untuk menyerang kita terakhir kalinya, tahu bahwa itualh saat penentuan! Banyak yang kehilangan iman, dan tidak pernah melihat neraka hingga mereka sendiri masuk ke dalamnya. Sakramen diberikan kepada mereka, tetapi ketika ditanyakan mereka apakah mereka berbuat dosa semacam itu, maka mereka akan menjawab, “Oh! putuskan saja sesukamu.”

Sebagian orang menghina Allah yang baik setiap saat, hati mereka merupakan tumpukan dosa; bagaikan sepotong daging yang busuk, yang sebagian dimakan ulat… Tidak, sungguh, jika saja para pendosa mau merenungkan tentang kehidupan kekal - akan kengerian abadi - pastilah mereka serta-merta bertobat.

sumber: "Catechism on Sin by Saint John Vianney": www.catholic-forum.com

Disalin dari: Media Pengajaran Vacare Deo - edisi Maret / Tahun VI / 2004