St. Yohanes Maria Vianney

Katekese tentang Dosa - Bagian IIJika kita menghina Allah yang baik maka ketika kita memandang salib, seharusnya kita mendengar Kristus yang berbicara kepada kita di kedalaman hati kita. “Jadi, apakah engkau juga, berpihak pada musuh-musuh-Ku? Apakah engkau hendak menyalibkan Aku kembali?” Arahkan matamu pada Kristus yang tergantung di kayu salib dan katakan pada dirimu sendiri, “Inilah harga yang harus dibayar Juruselamatku untuk memulihkan luka-luka akibat dosa-dosaku terhadap Tuhan!” Tuhan yang dalam sakrat maut, Tuhan yang menanggung setiap siksa aniaya, oleh sebab Ia akan menanggung semua beban kejahatan-kejahatan kita! Dengan memandang Salib, baiklah kita memahami kejinya dosan dan selayaknyalah kita merasa benci atas dosa. Marilah kita masuk ke dalam diri kita sendiri; marilah kita memeriksa apakah yang dapat kita lakukan guna menyilih hidup kita yang malang ini.

“Alangkah malangnya!” demikian Allah yang baik akan berkata kepada kita di saat ajal, “Mengapakah engkau menghina Aku - Aku, yang amat sangat mengasihimu?” Menghina Allah yang baik, yang tak pernah melakukan apa pun kepada kita selain daripada yang baik; dan menyenangkan setan, yang tidak pernah melakukan apa pun kepada kita selain daripada yang jahat! Betapa bodohnya! Tidakkah sungguh bodoh memilih untuk menjadikan diri kita sendiri layak bagi mereka dengan mengikatkan diri pada setan, sementara kita berkesempatan menikmati sukacita surga, bahkan semasa hidup sekarang ini, dengan mempersatukan diri kita dengan Tuhan dalam cinta? Orang tidak dapat memahami kebodohan ini; kebodohan yang tak akan pernah cukup diratapi. Para pendosa yang malang tampak seolah-olah tak sabar menanti hukuman yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kumpulan para iblis; mereka menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalamnya. Dalam kehidupan sekarang ini, ada semacam cicipan Surga, Neraka dan Api Penyucian, Api Penyucian ada dalam jiwa-jiwa yang tidak mati bagi diri mereka sendiri, Neraka ada dalam hati mereka yang tak mengenal Allah; Surga ada dalam hati mereka yang sempurna, yang bersatu erat dengan Kristus.

Ia yang hidup dalam dosa memiliki tingkah laku dan rupa binatang. Binatang, yang tak punya akal budi, tak tahu apa-apa selain nafsunya sendiri. Jadi, orang yang menjadikan dirinya seperti binatang, kehilangan akal budinya dan membiarkan dirinya dibimbing oleh nafsu-nafsu tubuhnya. Ia memanjakan dirinya dengan makanan dan minuman enak. dan menikmati kesia-siaan dunia, yang akan berlalu bagaikan angin. Aku merasa kasihan terhadap para pendosa yang malang, yang mengejar angin kosong; mereka mendapat sangat sedikit, mereka mengorbankan begitu banyak demi keuntungan yang sangat sedikit - mereka mengorbankan kekekalan mereka demi asap dunia yang menyedihkan.

Anak-anakku, betapa menyedihkan! Ketika suatu jiwa berada dalam keadaan dosa, ia dapat mati dalam keadaan dosa; dan bahkan sekarang apapun yang dilakukannay tak ada artinya di hadapan Allah. Itulah sebabnya mengapa setan begitu senang ketika suatu jiwa berada dalam dosa, setan tinggal gigih di dalamnya, sebab setan berpikir bhawa jiwa itu bekerja baginya, dan jika jiwa itu mati, jiwa itu akan menjadi miliknya. Ketika kita berada dalam keadaan dosa, jiwa kita sepenuhnya sakit, sepenuhnya busuk, kasihan sekali. Pengertian bahwa Allah yang baik melihat ke dalam jiwa seharusnya membuat orang masuk ke dalam dirinya sendiri. Dan lagi, kesenangan apakah yang diperoleh dari dosa? Tidak ada sama sekali. Kita diganggu mimpi-mimpi buruk bahwa setan membawa kita  pergi, bahwa kita jatuh ke dalam jurang. Pulihkan hubunganmu dengan Tuhan; terimalah Sakramen Pengakuan Dosa; maka kalian akan tidur pulas bagaikan malaikat. Kalian akan terangkat ke surga dengan sarana yang mengagumkan, bagai seekor elang membubung tinggi ke angkasa.

sumber: "Catechism on Sin by Saint John Vianney": www.catholic-forum.com

disalin dari: Media Pengajaran Vacare Deo - edisi Maret / Tahun VI / 2004