St. Yohanes Maria Vianney

Oleh: St. Yohanes Maria Vianney

Katekese tentang Dosa - Bagian IDosa adalah algojo bagi Allah yang dan pembunuh bagi jiwa. Dosa merenggut kita dari Surga dan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Dan kita menyukainya! Betapa bodohnya! Andai saja kita merenungkan tentang dosa dengan sungguh-sungguh, pastilah kita mempunyai kengerian yang luar biasa terhadap dosa hingga kita tidak mampu melakukannya. O, anak-anakku, betapa tak tahu berterima kasihnya kita! Allah yang baik menghendaki kita bahagia, itu sudah pasti; Ia memberikan kepada kita Hukum-Nya terus-menerus. Taurat Tuhan itu sempurna, peraturan Tuhan itu teguh. Raja Daud mengatakan bahwa ia menemukan kesukaan di dalamnya dan bahwa hukum Tuhan adalah pusaka yang baginya lebih berharga daripada segala kekayaan. Ia juga mengatakan bahwa ia berjalan dalam kebenaran, sebab ia mentaati perintah-perintah Tuhan. Jadi, Allah yang baik menghendaki agar kita berbahagia, tetapi kita tidak menghendaki demikian. Kita berpaling daripada-Nya dan menyerahkan diri kepada setan! Kita melarikan diri dari Sahabat kita untuk pergi mencari pembunuh kita! Kita berbuat dosa; kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam lumpur. Sekali terperosok ke dalam lumpur itu, kita tidak tahu bagaimana dapat membebaskan diri. Jika mujur nasib kita, kita akan segera mendapat jalan keluar dari kesulitan, tetapi karena hal itu hanyalah menyangkut jiwa kita, kita lebih suka tinggal tetap di mana kita berada.

Kita datang mengaku dosa dengan pikiran yang disibukkan oleh rasa malu yang akan kita rasakan. Kita samar-samar saja mempersalahkan diri kita sendiri. Dikatakan bahwa banyak yang mengaku, tetapi sedikit saja yang bertobat. Aku percaya memang demikianlah adanya, anak-anakku, sebab sedikit saja yang mengaku dosa denagn air mata tobat. Lihat, celakanya adalah, bahwa manusia tidak memeriksa diri. Jika seorang berkata kepada mereka yang bekerja pada hari Minggu, kepada pemuda yang berdansa-dansa selama dua atau tiga jam, kepada orang yang keluar dari kedai minum dalam keadaan mabuk, “Apa yang kalian lakukan? Kalian menyalibkan Kristus!” maka mereka akan terperanjat, sebab mereka pikir mereka tidak melakukannya. Anak-anakku, jita kita merenungkan dosa, kita tercekam karena ngeri dan karenanya tidaklah mungkin kita melakukan yang jahat. Sebab apakah gerangan yang telah Allah yang baik lakukan kepada kita hingga kita hendak menyedihkan-Nya begitu rupa, dan menyalibkan-Nya kembali - Dia, yang telah menebus kita dari neraka! Alangkah baiknya jika semua pendosa, ketika hendak melakukan kesenangan-kesenangannya yang mengakibatkan dosa, dapat, seperti St. Petrus berjumpa dengan Kristus di tengah jalan. Ia akan mengatakan kepada mereka, “Aku akan pergi ke tempat ke mana engkau hendak pergi, Aku ke sana untuk disalibkan kembali.” Mungkin hal itu dapat membuat mereka memeriksa diri.

Para kudus memahami betapa dahsyat suatu dosa menghina Allah. Sebagian dari mereka melewatkan hidup dengan menangisi dosa-dosa mereka. St. Petrus menangisi dosanya sepanjang hidupnya, ia bahkan masih juga menangis di saat ajalnya. St. Bernardus biasa mengatakan, “Tuhan! Tuhan! akulah yang memakukan Engkau pada kayu salib!” Dengan berdosa kita menghina Allah kita yang baik, kita menyalibkan Allah kita yang baik! Betapa menyedihkan kehilangan jiwa-jiwa kita, yang untuknya Kristus telah begitu banyak menderita sengsara! Kesalahan apakah yang telah Kristus lakukan terhadap kita, hingga kita memperlakukan-Nya sedemikian itu? Andai saja jiwa-jiwa sesat yang malang dapat kembali ke dunia! Andai saja mereka berada di tempat kita! Oh, betapa tak berperasaan kita! Allah yang baik memanggil kita kepada-Nya dan kita melarikan diri daripada-Nya! Allah menghendaki kita bahagia, tetapi kita tidak menghendaki kebahagiaan dari-Nya. Allah menghendaki kita untuk mengasihi-Nya, tetapi kita mempersembahkan hati kita kepada setan. Kita mempergunakan waktu yang Ia berikan kepada kita untuk menyelamatkan jiwa-jiwa kita dengan merusak diri kita sendiri. Kita berperang melawan Allah dengan sarana-sarana yang Ia berikan kepada kita untuk melayani-Nya.

sumber: "Catechism on Sin by Saint John Vianney": www.catholic-forum.com

disalin dari: Media Pengajaran Vacare Deo - edisi Maret / Tahun VI / 2004