St. Yohanes Maria Vianney

Oleh: St. Yohanes Maria Vianney

Katekese tentang DoaTidakkah kita merasa malu akan kemalasan kita, akan ketidakacuhan kita terhadap doa, padahal Penyelamat Ilahi kita, sumber segala rahmat, telah memberi kita teladan yang menyentuh hati akan doa? Karena kalian tahu bahwa Injil menceritakan kepada kita betapa sering Ia berdoa, bahkan menghabiskan sepanjang malam dengan berdoa. Apakah kita selayak dan sekudus Penyelamat Ilahi kita ini? Tidak adakah rahmat-rahmat yang hendak kita mohon? Mari masuk ke dalam diri kita; mari kita berpikir. Tidakkah kebutuhan—kebutuhan jiwa dan tubuh kita yang terus-menerus ini mengingatkan kita untuk memohon kepada-Nya, karena hanya Ia saja yang dapat memenuhinya? Berapa banyak musuh yang perlu ditaklukkan - iblik, dunia dan diri kita sendiri. Berapa banyak kebiasaan buruk yang perlu ditanggulangi, berapa banyak hawa nafsu yang perlu diatasi, berapa banyak kebiasaan buruk yang perlu ditanggulangi, berapa banyak dosa yang perlu diampuni! Dalam situasi yang begitu menakutkan serta menyakitkan, apa yang ada pada kita, anak-anakku? Pertahanan para kudus adalah doa, kebaikan yang penting, mutlak bagi umat Kristiani, baik yang taat maupun yang tidak…

Doa dapat dijangkau oleh orang yang bodoh maupun orang yang terpelajar, doa diwajibkan bagi orang yang sederhana maupun orang yang bijaksanan, doa merupakan kebaikan bagi seluruh umat manusia, doa adalah ilmu bagi semua orang beriman! Setiap orang di dunia yang mempunyai hati, setiap orang yang mempunyai akal sehat wajib mengasihi dan berdoa kepada Tuhan; memohon pengampunan kepada-Nya ketika Ia murka; mengucap syukur kepada-Nya ketika Ia melimpahkan belas kasih; merendahkan diri ketika Ia menguji. Jadi, anak-anakku, kita ini orang-orang malang yang telah diajar untuk memohon rahmat rohani, namun kita tidak memohon. Kita ini orang-orang sakit, yang telah menerima janji untuk disembuhkan, namun kita tidak minta disembuhkan. Tuhan yang baik tidak menuntut dari kita doa-doa yang indah, melainkan doa yang datang dari lubuk hati kita.

Santo Ignatius suatu ketika bepergian bersama beberapa teman, masing-masing mereka membawa tas kecil di pundak mereka yang berisi barang-barang yang paling mereka butuhkan dalam perjalanan. Seorang Kristen yang baik melihat bahwa mereka sudah kelelahan, amat bersemangat hendak menolong mereka; ia meminta kepada mereka untuk diperbolehkan membantu membawakan barang-barang mereka. Mereka mengabulkannya karena ia sangat mendesak. Ketika mereka tibadi penginapan, orang ini yang telah mengikuti mereka, melihat para imam itu saling mengambil jarak satu sama lain serta berlutut untuk berdoa, ikut berdoa juga. Ketika para imam bangkit berdiri, mereka sangat takjub melihat orang itu yang tetap khusuk berdoa sepanjang waktu mereka berdoa; mereka menyatakan rasa heran mereka kepadanya serta bertanya kepadanya apa yang telah ia lakukan. Jawabannya memberi pencerahan yang mendalam kepada para imam itu, karena katanya, “Saya tidak melakukan apa-apa kecuali berkata, mereka yang berdoa dengan khusuk adalah orang-orang kudus: aku berkata kepada-Mu, Tuhan, sama seperti yang mereka katakan.” Kata-katanya adalah kata-kata sehari-hari yang biasa ia gunakan dan dengan itu ia mencapai tingkat yang luhur dalam doa. Jadi, anak-anakku, kalian lihat bahwa tidak ada seorang pun yang tidak dapat berdoa - dan berdoa di segala kesempatan, di segala tempat, siang maupun malam, baik saat sibuk melakukan pekerjaan, atau pun saat senggang; di kota, di rumah, dalam perjalanan. Tuhan yang baik ada di mana saja, siap untuk mendengarkan doa-doamu, asalkan kamu menyampaikan kepada-Nya dengan iman dan kerendahan hati.”

sumber: "Catechism on Prayer by Saint John Vianney": www.catholic-forum.com

disalin dari: Media Pengajaran Vacare Deo - edisi April / Tahun V / 2003