St. Yohanes Maria Vianney

oleh: St. Yohanes Maria Vianney

Bunga-bunga dan rumputJika kita menyadari keadaan kita yang sesungguhnya, kerendahan hati akan merupakan hal yang mudah bagi kita, dan iblis kesombongan tidak akan mempunyai tempat lagi di hati kita. Lihatlah, hari-hari kita bagaikan rumput - bagaikan rumput yang sekarang menghijau di padang, dan akan segera layu dan mati; bagaikan biji jagung yang segar hany sesaat dan akan segera kering terbakar matahari. Sesungguhnya, anak-anakku, hari ini kita hidup dan kesehatan kita prima, esok hari, kematian mungkin memungut kita serta menuai kita, seperti kalian memungut jagung kalian serta menuai ladang kalian... Apa yang tampaknya kuat, yang hebat, yang indah, sifatnya hanya sementara saja... Kemuliaan dunia ini, masa muda, kehormatan, kekayaan, semuanya berlalu demikian cepat, secepat bunga-bunga rumput, secepat bunga-bunga di padang. Marilah kita merenungkan bahwa suatu hari nanti kita akan menjadi debu, kita akan dilemparkan ke dalam api bagaikan rumput kering, jika kita tidak takut akan Allah yang baik.

Umat Kristiani yang saleh tahu benar akan hal ini, anak-anakku; oleh karena itu mereka tidak akan menyibukkan diri mereka sendiri dengan tubuh mereka, mereka memandang rendah hal-hal duniawi, mereka memikirkan hanya jiwa mereka dan bagaimana mempersatukan jiwa mereka itu dengan Tuhan. Dapatkah kita menyombongkan diri di hadapan teladan-teladan kerendahan hati dan kehinaan diri yang ditunjukkan Kristus kepada kita, dan tetap ditunjukkanNya kepada kita setiap hari? Yesus Kristus datang ke dunia, menjelma menjadi manusia, dilahirkan miskin, hidup miskin, wafat di salib, dengan diapit dua penyamun... Ia mengadakan Sakramen yang amat mengagumkan, di mana Ia berkomunikasi dengan kita dalam rupa Ekaristi; dan dalam Sakramen ini Ia mengalami kehinaan diri yang paling luar biasa. Dengan tinggal senantiasa dalam tabernakel kita, Ia ditinggalkan, Ia disalah mengerti oleh orang-orang yang tidak tahu berterima kasih; namun demikian Ia tetap senantiasa mengasihi kita, tetap melayani kita dalam Sakramen Mahakudus.

Oh, anak-anakku! Betapa suatu teladan kehinaan diri yang telah ditunjukkan oleh Yesus yang baik kepada kita! Pandanglah Dia yang Tersalib, di mana dosa-dosa kitalah yang telah menyalibkan-Nya; Pandanglah Dia: Ia memanggil kita serta berkata kepada kita, "Datanglah kepadaKu dan belajarlah pada-Ku, karena aku lemah lembut dan rendah hati." Betapa baiknya para kudus memahami undangan ini, anak-anakku! Oleh sebab itu, mereka semua mencari kehinaan diri dan penderitaan. Jadi, seturut teladan mereka, janganlah kita takut direndahkan dan dihina. St. Yohanes dari Tuhan, pada awal pertobatannya berpura-pura gila, lari ke jalanan dengan diikuti orang banyak yang melemparinya dengan batu; ia selalu datang berbalut lumpur dan darah. Ia dikurung sebagai orang gila; cara pengobatan yang paling kejam dilakukan untuk menyembuhkan penyakitnya yang hanya tipuan belaka; dan ia menanggung semuanya itu dengan semangat tobat, dan dengan semangat silih atas dosa-dosanya di masa silam. Allah yang baik, anak-anakku, tidak menghendaki hal-hal yang luar biasa dari kita. Ia hanya menghendaki agar kita lemah lembut, rendah hati dan bersahaja, maka kita akan senantiasa menyenangkan hatiNya; kita akan menjadi seperti anak-anak kecil; dan Ia akan menganugerahkan kepada kita rahmat untuk datang kepada-Nya dan menikmati kebahagiaan para kudus." Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

sumber: "Catechism on Pride by Saint John Vianney": www.catholic-forum.com

disalin dari: Media Pengajaran Vacare Deo - edisi Juni / Tahun V / 2003