Sakramen Perkawinan

Usulan dan saran sebagai langkah-langkah atau gerakan konkrit yang dapat dilakukan sebagai ungkapan perwujukan ‘Keluarga sebagai Gereja rumah tangga’ (Ecclesia domestica), antara lain:

  1. Mulai berdoa bersama sebagai keluarga, bukan sendiri-sendiri saja. Membaca Kitab Suci harian bersama-sama, berdoa bersama sebelum makan. Bisa menggunakan liturgi resmi Gereja sebagai model liturgi keluarga, misalnya ibadat sabda tanpa imam, belajar berdoa secara spontan dan dengan melibatkan hati.
  2. Berdoa Rosario bersama-sama dalam keluarga. Anak-anak diberi kesempatan memimpin doa Bapa Kami dan Salam Maria. Anjurkan setiap anggota keluarga mendoakan intensi masingmasing. Doronglah anak-anak berdoa teratur setiap harinya.
  3. Di dalam Gereja selalu ada salib besar di sekitar altar, pasanglah juga salib yang cukup besar ditempat dimana keluarga sering berkumpul untuk berdoa bersama dan juga ditempat yang mudah dilihat orang. Pasanglah salib-salib ukuran sedang di dinding setiap kamar.
  4. Jadikanlah penerimaan sakramen sebagai tradisi keluarga yang secara teratur diterima seperti misalnya pengakuan dosa. Merayakan Ekaristi bersama sebagai keluarga setiap Minggu.
  5. Ciptakanlah tradisi keluarga dalam masa-masa tertentu dalam kalender gerejawi, misalnya Gerakan APP diperhatikan oleh ayah, ibu dan semua anak-anak termasuk anak yang masih kecil. Ajarilah mereka menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan dalam kolekte atau APP (bukan orang tua memberi uang kepada anak untuk kolekte atau APP. Ajarilah mereka berkorban untuk nilai yang lebih baik.
  6. Jadikanlah ziarah ke tempat suci misalnya ke gua Maria sebagai kebiasan keluarga yang dilakukan bersama oleh semua anggota keluarga.
  7. Jadikanlah berbakti kepada Tuhan sebagai kebiasaan setiap anggota keluarga, bahkan saat-saat liburan; misalnya mengikuti Misa harian pagi hari, untuk orangtua sebelum masuk kerja dan anak-anak sebelum masuk sekolah. Kalau sedang liburan diluar kota, carilah Gereja terdekat untuk ikut Misa pagi.
  8. Orangtua menjadi teladan kemurahan hati bagi anak-anak melalui tutur kata dan perbuatan mereka.
  9. Jangan takut mengungkapan cinta kepada pasangan di depan anak-anak misalnya suami-istri saling bergandengan tangan, berpelukan dan saling cium pipi. Perlihatkan kemurahan hati kepada tetangga dan orang lain di depan mata anak-anak. Katakan kepada anak-anak bahwa Tuhan mencintai mereka, mereka pun harus mencintai satu-sama lain dan berbaik hati kepada orang lain. Hindari suami-istri bertengkar di depan anak-anak. Dengan demikian mereka akan belajar dari orang tua apa yang baik untuk dilakukan.
  10. Ber-sharing lah dengan anak-anak tentang kehadiran Tuhan dalam suka dan duka keluarga.
  11. Perlihatkanlah selalu keramahan kepada siapa saja yang bertamu di rumah misalnya pastor, bruder, suster, dan pelayan Gereja lainnya yang mengunjungi rumah.
  12. Aktiflah berpartisipasi dalam hidup menggereja misalnya ambil bagian dalam liturgi sebagai lektor, asisten imam, dll.; menjadi anggota Legio Maria, WKRI, atau organisasi Gereja lainnya.
  13. Doronglah anak-anak juga ikut serta dalam kegiatan Gereja, tidak dibiarkan larut dalam pengaruh negatif lingkungan mereka.
  14. Ikut serta dalam kegiatan sosial di lingkungan kita misalnya menjadi ketua RT/RW (Rukun Tetangga/Rukun Warga), partisipasi dalam gotong-royong membersihkan lingkungan rumah. Tentu saja masih ada banyak kegiatan lain yang bisa menjadi ungkapan perwujudan iman dalam masyarakat.