Sakramen Ekaristi

Setelah pengutusan, imam mencium altar sebagai tanda peng-hormatannya kepada Kristus. Altar di situ adalah simbol Kristus sendiri, sebab di atas altar itu Kristus hadir dengan seluruh kurban salib-Nya saat perayaan Ekaristi. Dengan demikian, tindakan imam yang mencium altar sebagai ungkapan penghormatan kepada Kristus terjadi sebanyak dua kali, yakni saat permulaan dan saat akhir perayaan Ekaristi.

 

PUMR menyatakan: “Akhirnya, sesuai ketentuan, imam meng-hormati altar dengan menciumnya dan setelah membungkuk khidmat bersama para pelayan awam, ia meninggalkan ruang ibadat” (PUMR 169). Akan tetapi dalam suatu perayaan Ekaristi konselebrasi, hanya imam selebran utama yang menghormati altar dengan menciumnya, sementara para konselebran cukup mem-bungkuk khidmat ke arah altar. (PUMR 251)

Norma liturgi juga mengatur tata gerak para petugas liturgi kalau di panti imam ada tabernakelnya. “Kalau dipanti imam ada tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam”. (PUMR 274)

Saat perarakan imam dan para petugas lain meninggalkan altar, bisa dinyanyikan nyanyian penutup. Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa dengan pembubaran itu lalu tidak perlu lagi ada acara atau kegiatan, termasuk nyanyian penutup itu. Akan tetapi, banyak juga pendapat yang mengatakan bahwa nyanyian penutup yang mengiringi perarakan para petugas juga sangat baik dan membangkitkan gairah pengutusan. Nyanyian penutup ini bisa sangat membantu untuk menciptakan suasana perutusan itu dan sekaligus mengantar para petugas keluar dari panti imam atau tempat ibadat sehingga suasana umat juga terjaga.