Sakramen Ekaristi

 

Doa sesudah komuni merupakan doa yang menutup atau mengakhiri Liturgi Ekaristi. Doa sesudah komuni termasuk doa presidential artinya doa yang dibawakan oleh pemimpin seorang diri selaku pemimpin jemaat. Sambil berdiri di belakang altar, imam menghadap ke arah umat dan sambil membuka tangan berkata: “Marilah kita berdoa”, lalu mengatupkan tangan, hening sejenak. Inilah saat permenungan, saat doa pribadi. Semua berdoa sejenak dalam hati. Selanjutnya, sambil merentangkan tangan imam mengucapkan doa sesudah komuni itu dan umat menyerukan aklamasi “Amin” pada akhir doa.

Isi doa sesudah komuni umumnya mengungkapkan: syukur atas karunia Ekaristi yang telah dirayakan dan diterima, lalu permohonan agar berkat Ekaristi itu kita bertekun dalam perutusan kita selanjut-nya, dan akhirnya memohon agar nanti diperkenankan mengikuti perjamuan penuh di surga. Dengan demikian, dimensi eskatologis ditampakkan dan dinyatakan dalam doa sesudah komuni, yakni kebahagiaan abadi; supaya buah hasil Ekaristi menjadi daya atau pedoman hidup sehari-hari dan jaminan keselamatan abadi.

Jalan pikirannya: dengan merayakan Ekaristi, kita mengalami misteri penebusan Kristus sendiri. Di situ kita bersatu dengan Allah dan sesama melalui Krisus. Berkat Ekaristi itu, kita diberi kekuatan untuk melaksanakan perutusan di dunia, yakni dengan menghadirkan apa yang dirayakan dalam Ekaristi itu dalam perjuangan hidup sehari-hari di tengah dunia. Namun, seluruh perjalanan hidup kita, Gereja dan bahkan seluruh umat manusia ini akhirnya adalah tanah air surgawi, di mana dirayakan perjamuan surgawi untuk selama-lamanya. Sangat indah apa yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II: “Sungguh Ekaristi adalah secercah penampakan surga di atas bumi. Ekaristi adalah seberkas sinar mulia dari Yerusalem surgawi yg menembus awan sejarah dan menerani peziarahan kita” (Ecclesia de Eucharistia - EE 19).