Sakramen Ekaristi

Pada saat imam menyambut komuni untuk dirinya, nyanyian komuni sudah dapat dinyanyikan. Acara komuni diiringi nyanyian komuni. Nyanyian komuni berlangsung terus selama umat menyambut, dan berhenti kalau dianggap cukup.

PUMR 86 merumuskan maksud nyanyian komuni:

(1) agar umat yang secara batin bersatu dalam komuni juga menyatakan persatuannya secara lahir dalam nyanyian bersama,

(2) menunjukkan kegembiraan hati, dan

 

(3) menggarisbawahi corak “jemaat” dari perarakan komuni.

Saran Untuk Praktik: Paling cocok, untuk nyanyian komuni dipilih nyanyian yang mengungkapkan serta membangun persekutuan dan sukacita. Kurang cocok kalau dipilih nyanyian-nyanyian devosional atau nyanyian sembah sujud kepada Sakramen Mahakudus.

Nyanyian komuni pada dasarnya adalah nyanyian jemaat. Maka, partisipasi jemaat dalam nyanyian komuni sangat penting dan sangat serasi untuk menggarisbawahi segi persekutuan. Untuk memudahkan partisipasi umat, disarankan nyanyian dengan pola ulangan – ayat. Ulangan dilagukan oleh seluruh umat (juga yang sedang dalam perarakan) sedangkan ayat-ayat oleh kor. Tidak tepat kalau semua nyanyian komuni diborong oleh kor.

Setelah penerimaan komuni selesai dan juga setelah pembersihan bejana usai, sebaiknya umat juga diberi waktu hening yang cukup sehingga memiliki waktu dan suasana untuk berdoa pribadi. Suasana yang serba terisi dengan musik dan nyanyian yang tanpa henti dan jeda tidak selalu mendukung untuk keheningan, meskipun keheningan sendiri tidak pertama-tama ditentukan oleh suasana sunyi senyap. PUMR memberi kemungkinan untuk madah syukur atau nyanyian pujian atau doa Mazmur oleh seluruh jemaat saat sesudah komuni umat selesai (no.88.164)