Sakramen Ekaristi

Komuni umat merupakan saat yang suci, penting dan agung. Melalui komuni, kita berpartisipasi dalam peristiwa penebusan Kristus yang dikenangkan dalam DSA dan kini diterima dalam bentuk tanda, yakni Tubuh (dan Darah) Kristus sendiri. Itulah sebabnya, tata cara komuni menjadi sangat penting dan harus dijalankan dengan sungguh-sungguh; tentu dimaksudkan untuk memelihara kesucian dan keagungan peristiwa tersebut.

 

Umat menerima komuni setelah komuni imam. Pelayan komuni menerimakan komuni kepada umat dengan pertama-tama me-nunjukkan hosti suci itu dengan berkata: “Tubuh Kristus” dan umat sambil memberi tanda hormat menjawab “Amin” (PUMR 160-161).

Penerimaan komuni oleh umat dapat dilakukan dengan meng-gunakan lidah atau tangan (lih. PUMR 161). Pada masa pra-Konsili Vatikan II komuni suci selalu diterimakan dengan menggunakan lidah. Praktek ini sebenarnya dimulai sejak abad pertengahan, khususnya sekitar abad IX, tatkala orang sangat mengagungkan kedudukan Ekaristi dan menekankan makna ketidakpantasan manusia. Selain itu, cara penerimaan komuni dengan lidah dipandang suatu cara yang amat bagus untuk menghindari kemungkinan jatuhnya serpihan kecil-kecil hosti suci itu dari tangan. Akan tetapi, ternyata praktek yang lebih tua justru adalah praktek penerimaan komuni dengan tangan, seperti terungkap dalam kesaksian Santo Sirilus dari Yerusalem pada akhir abad IV.

Suasana yang perlu ditonjolkan dalam penerimaan komuni adalah kesatuan, kegembiraan hati, dan rasa persaudaraan. Komuni kudus bukanlah pertama-tama saat kesalehan pribadi, melainkan merupakan sebuah tindakan jemaat yang sedang berdoa, bersyukur, bersukacita, dan sedang dipersatukan lebih erat dengan Kristus dan melalui Kristus dengan rekan seibadat serta saudara-saudara seiman di seluruh dunia. Komuni mau memperlihatkan jemaat sebagai satu koinonia atau persekutuan. Justru komuni kudus merupakan tanda yang paling jelas dan paling bermakna dari koinonia itu. Pada saat kita menerima komuni, di saat itulah Gereja dinyatakan dan diteguhkan sebagai satu tubuh.