Sakramen Ekaristi

 

Di beberapa tempat ada pandangan bahawa sebaiknya imam menyambut komuni untuk dirinya sendiri setelah ia selesai menerimakan komuni kepada umat beriman. Dengan demikian, imam itu menjadi tuan rumah yang baik, yang mempersilahkan tamu-tamunya dahulu untuk bersantap, dan imam itu juga menjadi pelayan yang baik dan rendah hati. Akan tetapi, pandangan ini tidak dibenarkan menurut tata liturgi Gereja. Pra Bapa Konsili Vatikan II sendiri mengajarkan: “Dianjurkan dengan sangat partisipasi umat yang lebih sempurna dalam Misa, dengan menerima Tubuh Tuhan dari kurban itu juga sesudah imam menyambut komuni” (SC 55) Secara sangat eksplisit, Instruksi Redemptionis Sacramentum menyebut: “Tidak pernah imam selebran atau seorang konselebran boleh menunda penerimaan komuni sendiri sampai selesai komuni umat” (RS 97)

Ada beberapa alasan, mengapa imam selebran harus meneri-ma komuni lebih dahulu:

Pertama, praktek imam yang menerima komuni dahulu sebelum kemudian membagikan komuni kepada umat sudah me-rupakan praktek Gereja sejak awal mula. Hal itu juga sesuai dengan tradisi perjamuan makan Yahudi, dalam mana bapa keluarga yang memimpin perjamuan menyantap lebih dahulu roti dan minum piala. Kedua, Gereja Timur memandang sangat penting bahwa imam lebih dahulu menerima komuni sebelum ia membagikannya kepada umat. Yang tidak melakukan hal ini dianggap menyimpang dari tradisi liturgi dan dapat dihukum oleh Gereja Timur. Demikianlah praktek komuni imam yang mendahului komuni umat sudah merupakan praktek tradisional Gereja Barat dan Timur sejak dahulu. Ketiga, secara teologis perayaan Ekaristi tidak boleh disamakan begitu saja dengan perjamuan makan biasa seperti yang terjadi di berbagai bangsa dan budaya. Perayaan Ekaristi adalah perayaan yang mengenangkan dan membangkitkan kurban Kristus. Dalam perayaan Ekaristi tersebut, Kristuslah yang menjadi Tuan Rumah dan sekaligus Hidangannya. Dengan demikian, sang tuan tumah bukanlah sang imam selebran, melainkan Kristus sendiri.