Sakramen Ekaristi

Sementara imam memecah-mecah hosti dan memasukkan pecahan kecil hosti ke Darah Kristus dalam piala, dinyanyikan atau didaraskan Anak Domba Allah, oleh paduan suara atau solis dengan jawaban oleh umat beriman. Karena sifatnya mengiringi, maka sebenarnya nyanyian Anak Domba Allah, khususnya dua bagian pertama, boleh diulang-ulang seperlunya sampai pemecahan hosti itu selesai. Namun, pengulangan terakhir ditutup dengan seruan: “berilah kami damai” (PUMR 83)

 

Seruan Agnus Dei atau Anak Domba Allah itu dimasukkan ke dalam perayaan Ekaristi oleh Paus Segius I (tahun 687-701). Seruan ini dinyanyikan atau diucapkan untuk mengiringi pemecahan hosti. Kata-kata “berilah kami damai” dimasukkan sebagai seruan akhir sejak abad XI.

Rumusan “Anak Domba Allah” di sini diambil dari teks Perjanji-an Baru, yakni Yohanes 1:29.36. Gelar “Anak Domba Allah” diucap-kan oleh Yohanes Pembaptis untuk Yesus. Gelar ‘Anak Domba Allah’ itu dikenakan pada Yesus tentu berhubungan dengan teologi Yohanes yang memandang Yesus sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan bagi keselamatan dunia. Dengan demikian, seruan Anak Domba Allah ini mau menyampaikan pujian umat beriman kepada Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya untuk kita dan kini hadir sebagai Tuhan yang mulia di atas altar.