Sakramen Ekaristi

Sesudah imam memecah-mecah hosti, ia memasukkan pecah-an kecil hosti ke Darah Kristus dalam piala. Ada beberapa pendapat dari para ahli menyangkut tindakan imam ini. Tindakan ini memiliki beberapa makna simbolis:

Pertama, Lambang persatuan imam dengan paus

 

Praktek pencampuran pecahan kecil hosti ke Darah Kristus dalam piala berasal dari kebiasaan Liturgi Romawi sekitar abad VII oleh Paus Sergius I. Pada waktu itu, paus merayakan Ekaristi di salah satu paroki di kota Roma, maka sesudah ritus Pemecahan Roti, diakon atau pelayan lain membawa sepotong kecil roti ke stasi-stasi dan memberikannya kepada imam yang tak berkesempatan hadir dan berkonselebrasi dengan Paus.

Imam itu menerima potongan kecil roti tersebut dan mencampurnya ke dalam anggur untuk disantap. Pencampuran ini digunakan untuk melambangkan per-saudaraannya dengan Sri Paus (atau uskup) dan simbol kesatuan dengan kurban Kristus.

Kedua, Lambang kebangkitan Kristus – Menurut teologi Gereja Suriah, konsekrasi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus menghadirkan peristiwa kematian Kristus. Tubuh yang dipisahkan dari Darah Kristus membahasakan peristiwa kematian Kristus. Sedangkan percampuran Tubuh dan Darah Kristus sebelum komuni melambangkan peristiwa kebangkitan Tuhan. Jadi, persatuan (kembali) Tubuh dengan Darah Kristus membahasakan kebangkitan Tuhan.

Saat imam memasukkan pecahan kecil hosti ke ke darah Kristus dalam piala, imam berdoa dalam hati: “Semoga pencampuran Tubuh dan Darah Tuhan kita Yesus Kristus ini memberikan kehidupan abadi kepada semua yang akan menyambut-Nya.”