Sakramen Ekaristi

Ritus pemecahan hosti atau pemecahan roti merupakan tindakan upacara yang penuh simbol. Sebagaimana dibuat Yesus dalam perjamuan malam terakhir, sebelum dibagi-bagikan roti suci itu dipecah-pecahkan dahulu.

Praktek pemecahan roti ini masih dipertahankan sebagaimana disebutkan dalam PUMR 83: “Karena tata gerak Kristus dalam perjamuan malam terakhir ini, pada zaman para rasul seluruh perayaan Ekaristi disebut ‘pemecahan roti’. Pemecahan roti menandakan bahwa umat beriman yang banyak itu menjadi satu (1Kor 10:17) karena menyambut komuni dari roti yang satu.”

 

Penggunaan istilah pemecahan roti kiranya menunjuk Ekaristi sebagai perayaan kesatuan kita dengan Tuhan Yesus Kristus dan umat beriman lainnya karena kita semua merupakan satu tubuh. “Di zaman para rasul perayaan Ekaristi disebut Pemecahan Roti, sebab kegiatan pemecahan roti itu melambangkan dengan jelas dan nyata, bahwa semua bersatu dalam satu roti.

Selain itu, dilambang-kan juga cinta persaudaraan, sebab roti yang satu dan sama itu dipecah-pecah dan dibagikan di antara saudara-saudara seiman.” (PUMR 321) Jadi, pemecahan roti ini ini juga mengingatkan kita akan tugas yang dipercayakan kepada kita, yaitu tugas saling mencintai dalam kesatuan. Maka ketika imam memecahkan hosti, perlu kita sadari bahwa kita semua dipersatukan oleh cinta kasih Kristus, dan diharapkan menjadi duta kasih dan persatuan. Tak ada permusuh-an lagi antar kita, sebab kita semua membawa kasih dan damai Kristus dalam hati kita.

Selanjutnya PUMR menyarankan agar pemecahan roti dilaksanakan secara khidmat dan yang terpenting ialah bahwa makna pemecahan roti itu tampak.