Sakramen Ekaristi

Sesudah doa Bapa Kami, imam memanjatkan doa damai: “Tuhan Yesus Kristus, Engkau bersabda kepada para rasul, ‘Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu.’ Jangan mem-perhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa”, dan umat menjawab : “Amin”

 

Penempatan ritus damai sesudah doa Bapa Kami dimaksudkan: “Gereja memohon damai dan kesatuan bagi Gereja sendiri dan bagi seluruh umat manusia, sedangkan umat beriman menyatakan persekutuan dan cinta kasih satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus” (PUMR 82) Dengan demikian Salam Damai yang dilangsungkan bukan pertama-tama demi saling memaafkan, namun lebih untuk mengungkapkan persekutuan dan kesatuan hidup bersama dalam jemaat.

Ada tiga bagian dalam ritus damai ini.

Pertama, undangan imam kepada jemaat untuk berdoa dan sekaligus doanya sendiri untuk memohon damai. Damai yang dimohon-kan bukan sekadar suatu damai yang disebabkan karena tidak adanya perang atau konflik. Damai, menurut arti kata Ibrani-Aram shalom, menunjuk suatu pengertian yg mencakup seluruh dimensi penyelamat-an Mesias, termasuk kesejahteraan lahir dan batin, jiwa dan badan.

Kedua, sapaan imam kepada umat akan Damai Tuhan yang menyertai mereka. “Damai Tuhan bersamamu”dan umat menjawab: “Dan bersama rohmu”. Saat imam mengucapkan “Damai Tuhan bersamamu” itu, ia mestinya merentangkan tangan secara lebar-lebar, seolah-olah hendak memeluk semua hadirin. Perentangan tangan tersebut mestinya berbeda dari rentangan tangan saat memimpin doa-doa presidensial.

Ketiga, sesudah ajakan untuk saling memberikan salam damai, imam dan umat beriman saling menyampaikan salam damai dalam bentuk konkret dan lahiriah, misalnya bersalaman atau saling membungkuk. Bagaimana sebaiknya salam damai disampaikan, itu diserahkan pada kekhasan dan kebiasaan masing-masing daerah sesuai dengan ketentuan dari Konferensi Uskup.