Sakramen Ekaristi

Bagian terakhir dari semua Doa Syukur Agung adalah doxologi penutup. Kata doxology berasal dari kata Yunani doxa, yang berarti kemuliaan. Doxologi selalu berciri trinitaris, yaitu pujian kemuliaan yang diarahkan kepada Bapa melalui Putra dalam Roh Kudus.

 

Rumusan doxology penutup pada semua Doa Syukur Agung dibuat sama. Imam menyanyikan atau mengucapkan: “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa.” Dan umat menjawab dengan meriah, lantang dan mantap: “Amin”. Aklamasi “Amin” dapat diulangi beberapa kali sebagai sahutan kegembiraan yang menutup seluruh Doa Syukur Agung.

Kata “Amin” itu berasal dari bahasa Ibrani amen, yang berarti: “Setuju, ya demikianlah”. Dengan demikian, kata tersebut menunjuk ungkapan pengakuan, pengambilalihan, dan persetujuan bahwa apa yang dikatakan oleh pemimpin doa berlaku pula untuk saya, meng-ikat saya! Apa yang di-amini? Yang di-amini adalah pujian syukur dan hormat kepada Allah Bapa yang mulia melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Pujian syukur ini sebenarnya sudah dilambungkan umat beriman kepada Allah Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus sepanjang Doa Syukur Agung sendiri. Hanya saja kini pada akhir DSA disampaikan pujian syukur penutup seolah-olah menyimpulkan dan menegaskan kembali apa yang telah diunjukkan selama DSA tadi. Itulah sebabnya doxologi pada akhir DSA ini disebut doxologi penutup. Dengan demikian, jawaban “Amin” dari umat sebenarnya tidak hanya mengamini pujian syukur pada doxologi penutup ini saja, tetapi juga untuk mengamini seluruh Doa Syukur Agung yang telah didoakan oleh imam.