Sakramen Ekaristi

Doa Syukur Agung (DSA) merupakan pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi. Tentang kisah dan kata-kata Instirusi itu, PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) no.79 d. menyatakan:

 

“Dalam bagian ini kata-kata dan tindakan Kristus sendiri diulangi, dan dengan demikian dilangsungkan kurban yang diadakan oleh Kristus sendiri dalam perjamuan malam terakhir. Di situ Kristus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur, dan memberikannya kepada para rasul untuk dimakan dan diminum, lalu mengamanatkan kepada mereka supaya merayakan misteri itu terus menerus”

Pada akhir kisah Institusi dikatakan, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Inilah yang kita lakukan setiap kali kita merayakan Ekaristi. Merayakan Ekaristi berarti kita melaksanakan amanat Yesus dan mengenang atau mengalami kembali kehadiran-Nya; kalau dulu di tengah para rasul, kini di tengah kita, umat-Nya.

Dengan demikian, kisah dan kata-kata Institusi menjadi sangat penting dan essensial karena pada saat itu imam mengucapkan secara langsung apa yang dahulu dilakukan dan dikatakan sendiri oleh Tuhan Yesus Kristus saat perjamuan malam terakhir. Tindakan dan kata-kata Yesus yang diucapkan kembali oleh imam pada bagian ini merupakan tindakan dan kata-kata Yesus atas roti dan piala pada waktu Tuhan mengadakan perjamuan malam terakhir dengan para murid. Dengan semangat pembaruan Konsili Vatikan II, seluruh DSA dipandang sebagai satu kesatuan yang menjadi pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi. (PUMR 78)

Bagaimana sikap umat? Pedoman Umum Missale Romawi dikatakan umat berlutut. Tetapi di samping itu dapat dilaksanakan tata gerak lain yang berkaitan dengan apa yang dilakukan imam, yakni: pada saat imam memperlihatkan Tubuh atau Darah Kristus, umat menatapnya, dan pada waktu imam berlutut menyembah, umat pun ikut menyatakan hormat yang bisa diungkapkan dengan membuat sembah, membungkuk.