Sakramen Ekaristi

Doa Syukur Agung adalah pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi. Karena begitu sentral dan pentingnya DSA, maka aturan di sekitar DSA sangat terinci dan boleh dikatakan sangat ketat. Mengapa? Karena dalam DSA dihadirkan seluruh misteri penebusan Kristus bagi kita di atas altar.

 

Dari sisi teologis, dalam DSA seluruh misteri karya penyelamat-an Allah yang terlaksana melalui peristiwa Yesus Kristus yang berpuncak dalam wafat dan kebangkitan-Nya kini dirayakan oleh seluruh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kristus dan Gereja-Nya, berkat Roh Kudus. Secara liturgis, perayaan misteri penebusan Kristus itu dipimpin oleh imam yang in persona Christi dan pelayan seluruh Gereja, dalam bentuk perjamuan sakramental di altar.

Dari sisi yuridis, validitas atau sahnya perayaan Ekaristi tergantung pada materia yang digunakan (roti dan anggur) dan forma sacramenti-nya, yakni keseluruhan DSA sebagai satu kesatuan untuk Ekaristi. DSA harus didoakan oleh pelayan yang sah (yaitu imam yang sah dan tak terkena hukuman). Pengaturan yang jelas dan tegas secara yuridis ini sebenarnya hanya mau menjamin agar perayaan Ekaristi itu sungguh suatu perayaan yang menghadirkan misteri penebusan Kristus itu, sehingga pada gilirannya keselamatan kita juga terjamin!

Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) menerangkan Doa Syukur Agung (DSA) sebagai berikut:

“Pusat dan puncak seluruh perayaan sekarang dimulai, yakni Doa Syukur Agung, suatu doa syukur dan pengudusan. Imam mengajak jemaat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan dengan berdoa dan bersyukur. Dengan demikian, seluruh umat yang hadir diikutsertakan dalam doa ini. Ini disampaikan oleh imam atas nama umat kepada Allah Bapa, dalam Roh Kudus, dengan pengantaraan Yesus Kristus. Adapun maksud doa ini ialah agar seluruh umat beriman menggabungkan diri dengan Kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersembahkan kurban.”(PUMR 78)