Tata Gerak dan Sikap Umat dalam Perayaan Liturgi

KonsekrasiSelama Perayaan Ekaristi, umat berpartisipasi dengan sikap dan tata gerak duduk, ataupun memberi hormat dengan berbagai tingkatan, mulai dari berdiri, menundukkan kepala, membungkukkan badan, sampai ke berlutut. Berikut ini akan disampaikan sikap dan tata gerak saat konsekrasi. (bdk. PUMR, 43)

Umat diminta berlutut saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau kalau tempat ibadat tidak memungkinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Di Indonesia umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung; kebiasaan ini perlu dipertahankan.

Berlutut dengan menekuk dua kaki adalah ungkapan hormat tertinggi dalam tradisi Gereja Katolik Ritus Romawi. Umat yang sudah berlutut ketika konsekrasi boleh saja mempraktikkan tata gerak menundukkan kepala atau membungkukkan badan atau bahkan sujud menyembah dalam devosi pribadi, akan tetapi saat upacara liturgi bersama umat yang lain, sebaiknya ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi lebih diutamakan.

Ketika Tubuh atau Darah ditunjukkan oleh imam selebran, umat seharusnya melihatnya. Memang Tubuh dan Darah itu dipertunjukkan kepada umat untuk dilihat, bukan diabaikan. Misalnya, malah dengan menundukkan kepala atau mengatupkan kedua telapak tangan dan mengangkat ke depan wajah. Kita tidak diminta menyembah. Maka, tidak ada keharusan itu. Setelah mengangkat Tubuh atau Darah, imam memang memberi penghormatan dengan berlutut. Kiranya sikap menyembah ataupun menundukkan kepala oleh umat dapat disetarakan dengan sikap imam ini, yakni sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan. Singkatnya, pandanglah Tubuh dan Darah Kristus ketika imam selebran mengangkatnya bagi umat.

Mereka yang tidak dapat berlutut pada saat konsekrasi karena satu dan lain hal, hendaknya membungkuk khidmat saat imam berlutut memberi hormat, setelah menunjukkan Tubuh dan Darah Kristus.

Setelah mengetahui bagaimana ajaran Gereja untuk menghormati Tubuh dan Darah Kristus pada waktu konsekrasi, marilah kita bersama mempraktikkannya. Nyatakanlah ungkapan hormat kita dengan rendah hati dan taat, dengan tata gerak yang sama dengan umat lain, sesuai dengan apa yang diajarkan Gereja.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya