Tata Gerak dan Sikap Umat dalam Perayaan Liturgi

Mendengarkan Sabda Allah / HomiliKonsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi umat beriman yang penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (bdk. SC, 14-20). Pascal konsili dan sampai hari ini, partisipasi aktif pun dibahas dan diusahakan di banyak tempat.

Apa yang dimaksud dengan partisipasi aktif? Bicara partisipasi aktif dalam Misa, banyak orang langsung memikirkan partisipasi dalam hal menyanyi, menjawab aklamasi-aklamasi dan juga tata gerak: berdiri, berlutut, duduk, dan sebagainya. Mungkin belum banyak yang terpikir, bahwa ada bentuk partisipasi aktif lain yang tidak kalah pentingnya: yaitu mendengarkan. Bisa jadi mendengarkan adalah bentuk partisipasi aktif yang paling sulit dilakukan umat. Kadang lebih mudah bagi kita untuk bicara dan bergerak daripada diam dan mendengarkan.

Kapan kita dituntut untuk berpartisipasi aktif mendengarkan dalam Misa? Banyak yang mungkin tidak sadar, bahwa sikap yang paling benar saat Sabda Allah dibacakan adalah mendengarkan dan bukan membaca sendiri dari teks Misa atau Kitab Suci. Dengan mendengarkan, kita menunjukkan penghormatan pada Sabda Allah yang dibacakan.

Paus St. Yohanes Paulus II pernah mengajarkan hal ini "... partisipasi aktif tidak menghalangi kepasifan yang aktif dari kesunyian, keheningan, dan mendengarkan: sebaliknya, ia justru menuntutnya. Umat tidak pasif, misalnya saat mendengarkan bacaan atau homili, saat menyimak doa-doa imam selebran, lagu serta musik dalam liturgi. Kesemuanya itu adalah pengalaman kesunyian dan keheningan, tetapi itu semua sungguh sangatlah aktif."

Teks Misa yang ada di depan Ibu, Bapa, dan Saudara-Saudari sekalian sebenarnya dibaca atau digunakan di saat yang lain, misalnya dibaca di rumah untuk mempersiapkan diri, atau setelah Misa. Saat pembacaan Sabda Allah, biarlah teks Misa berada di tempatnya.

Mari, Ibu, Bapak, dan Saudara-Saudari, bersama-sama kita melatih diri untuk mendengarkan bacaan-bacaan dengan sungguh-sungguh, mulai dari Misa ini.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya