Tata Gerak dan Sikap Umat dalam Perayaan Liturgi

Makna menepuk / menebah dada pada saat ritus tobatDi awal Perayaan Ekaristi, setelah membuat tanda salib dan mendengarkan pengantar dari imam, kita akan diajak untuk menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya layak merayakan Misa, yang merupakan sebuah peristiwa penyelamatan bagi kita. Imam akan memulai dengan berkata, "Saya mengaku," dan umat akan melanjutkan dengan, "kepada Allah yang Mahakuasa", dan seterusnya. Saat mengucapkan, "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa," kita semua menepuk dada tiga kali, tepatnya waktu mengucapkan kata "berdosa". Tata gerak ini diadopsi dari tradisi Yahudi, memukul-mukul diri di dada, yang merupakan ungkapan tak pantas dan tanda penyesalan yang mendalam.

Berikut ini adalah contoh yang dapat kita temukan dalam Injil Lukas:

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jaruh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Luk 18:9-13)

Kita simak dan garis bawahi bahwa, "pemungut cukai itu memukul diri". Tata gerak memukul diri inilah yang diadopsi oleh Gereja Katolik Ritus Romawi dan disederhanakan menjadi menepuk atau menebah dada tigak kali, masih dengan makna yang sama.

Mari, Ibu, Bapak, dan Saudara-Saudari, bersama-sama kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, mulai dari Misa ini.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya