Tata Gerak dan Sikap Umat dalam Perayaan Liturgi

Mengapa orang Katolik berlutut saat hendak duduk?Saat masuk ke dalam gedung gereja, yang adalah Rumah Allah, perhatian umat hendaknya ditujukan pada Kristus, Putra Allah, yang mungkin ada di dalam Tabernakel di panti imam. Bagaimana umat tahu bahwa ada Kristus di dalam Tabernakel di panti imam? Lihatlah Lampu Allah. Lampu Allah ini akan dinyalakan bila ada Kristus di dalam Tabernakel. Bila Lampu Allah ini menyala, yang artinya Kristus ada di dalam Tabernakel, umat hendaknya menghormati Kristus dengan berlutut. Umat bisa berlutut menghormati Kristus saat hendak masuk ke bangku, atau bisa juga sesaat setelah masuk gereja, sesudah atau bersamaan dengan membuat tanda salib dengan air suci; yang terakhir ini khususnya untuk para petugas liturgi atau umat yang tidak langsung menuju tempat duduk saat memasuki gereja.

Umat yang sudah biasa berlutut saat hendak masuk ke bangku, ingatlah, bahwa tata gerak ini kita lakukan untuk menghormati Kristus yang ada di dalam Tabernakel, dan bukan sekedar mengikuti kebiasaan umat lain untuk berlutut sebelum memasuki bangku. Alangkah baiknya jika kita berlutut sambil mengarahkan pandangan dan memusatkan perhatian pada Kristus di dalam Tabernakel, karena bagi Dialah kita berlutut memberi hormat.

"Kalau di panti imam ada Tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut [setiap kali melewatinya].
Di luar Perayaan Ekaristi, setiap kali lewat di depan Sakramen Mahakudus, orang berlutut, kecuali kalau mereka sedang dalam perarakan.
Para pelayan yang membawa salib perarakan atau lilin menundukkan kepala sebagai ganti berlutut."
PUMR 274

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya