Tata Gerak dan Sikap Umat dalam Perayaan Liturgi

Mengambil Air SuciSaat masuk ke dalam gedung gereja, umat mengambil air suci dengan ujung jari, kemudian membuat tanda salib. Tata gerak ini mengingatkan kita akan pembaptisan yang telah kita terima, yang menjadikan kita semua murid-murid Kristus. Beberapa ahli menyebut tata gerak ini sebagai ungkapan penyesalan atas dosa dan juga untuk mohon perlindungan dari setan.

Dalam tradisi Ritus Romawi, umat melakukan tata gerak ini pada saat masuk ke dalam gereja saja, dan tidak melakukannya lagi saat meninggalkan gereja. Jadi, tidak salah bila kita tidak melakukannya saat meninggalkan gereja, karena memang begitulah kebiasaan dalam Gereja Katolik Ritus Romawi di seluruh dunia. Meskipun begitu, tidak juga ada larangan bagi umat yang tetap ingin melakukannya.

Di beberapa gereja yang tempat air sucinya dilengkapi dengan hiasan relief salib kecil, ada kebiasaan beberapa umat untuk mencelupkan ujung jari dan membasahi salib itu sebelum membuat tanda salib pada diri mereka sendiri. Kebiasaan membasahi salib ini merupakan penghayatan pribadi walaupun tidak ada dalam tradisi Gereja Katolik Ritus Romawi. Oleh karena itu, jika ada sebagian umat yang melakukannya dan ada sebagian lain yang tidak, kita tidak perlu bingung karena hal itu merupakan pilihan penghayatan pribadi masing-masing.

Tadi sudah disebutkan bahwa tata gerak mengambil air suci dan membuat tanda salib ini adalah sebuah peringatan atau kenangan akan pembaptisan kita; lalu bagaimana dengan orang dewasa atau anak-anak yang belum dibaptis? Perlukah mereka melakukannya? Jawabnya, tata gerak ini bukanlah kewajiban bagi semua orang yang memasuki gereja. Boleh saja orang yang belum dibaptis memasuki gereja tanpa melakukannya. Berikutnya, bolehkah orang melakukannya juga meskipun belum dibaptis? Jawabnya, tidak ada larangan untuk itu; silahkan saja bila memang dikehendaki, sebagai ungkapan kerinduan untuk menerima Sakramen Baptis. Bagi anak-anak, walaupun mereka belum dibaptis, baik juga bila tata gerak ini dilakukan sebagai sebuah bentuk pembiasaan tata gerak rohani sejak kecil.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya