Tata Gerak dan Sikap Umat dalam Perayaan Liturgi

Partisipasi Aktif saat Perayaan EkaristiKonsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi umat beriman yang penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (bdk. SC, 14-20). Pasca konsili dan sampai hari ini, partisipasi aktif pun masih dibahas dan diusahakan di banyak tempat.

Apa yang dimaksud dengan partisipasi aktif? Berbicara tentang partisipasi aktif dalam Misa, banyak orang langsung memikirkan partisipasi dalam hal menyanyi, menjawab aklamasi-aklamasi dan juga tata gerak: berdiri, berlutut, duduk, dan sebagainya. Mungkin belum banyak yang terpikir, bahwa ada bentuk partisipasi aktif lain yang tidak kalah pentingnya: yaitu diam dan hening. Bisa jadi diam dan hening adalah bentuk partisipasi aktif yang paling sulit dilakukan umat. Kadang lebih mudah bagi kita untuk bicara dan bergerak daripada diam dan hening.

Kapan kita dituntut untuk berpartisipasi aktif dengan diam dan hening dalam Misa? Sesungguhnya, dalam Misa ada banyak waktu di mana kita diminta untuk diam dan hening. Mari kita cermati kutipan PUMR no. 45 ini, "Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang telah didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati. Bahkan sebelum Perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat."

Bapa Suci Paus Fransiskus secara mencolok mengaplikasikan hal diam dan hening ini dalam Misa yang beliau pimpin; beliau mengadakan saat-saat hening yang masing-masing cukup panjang waktunya dan benar-benar khusyuk. Usai homili, Paus Fransiskus biasa kembali ke katedra atau takhtanya dan duduk diam di sana selama beberapa menit. Dengan demikian, umat dapat merenungkan Sabda Allah dan penjelasan yang baru beliau sampaikan.

Paus St. Yohanes Paulus II pernah mengajarkan hal ini "... partisipasi aktif tidak menghalangi kapasifan yang aktif dari kesunyian, keheningan, dan mendengarkan: sebaliknya, ia justru menuntutnya. Umat tidak pasif, misalnya, saat mendengarkan bacaan atau homili, saat menyimak doa-doa imam selebran, lagu serta musik dalam liturgi. Kesemuanya itu adalah pengalaman kesunyian dan keheningan, tetapi itu semua sungguh sangatlah aktif."

Mari, Ibu, Bapak, dan Saudara-Saudari, bersama-sama kita melatih diri untuk diam dan hening, usai komuni misalnya, mulai dari Misa ini. Gunakan waktu yang ada untuk memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya