Pewarta Sabda dalam Perayaan Liturgi

Pedoman Pekan Suci yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen pada tahun 1988, no. 33 menggariskan, "Kisah sengsara harus diberi tempat istimewa (dalam upacara atau peryaan ini), dan harus dinyanyikan atau dibacakan menurut cara tradisional, yakni oleh tiga orang yang memerankan: Kristus, pembawa kisah dan rakyat. Kisah sengsara dibawakan oleh diakon atau imam, atau pembaca awam; bila dibacakan atau dinyanyikan bersama dengan awam, peranan Kristus harus diperankan oleh imam." Menurut pedoman ini Sabda-sabda Yesus dibawakan oleh seorang imam. Bila demikian, imam sama sekali bukan tidak berperan dalam Kisah Sengsara itu. Tampaknya pedoman ini maupun rubrik ingin bertindak pastoral. Kisah sengsara yang panjang itu barangkali akan terlalu melelahkan bila dibawakan oleh imam saja. Selain itu perlu juga variasi suara. Apakah dengan ini ada "sejenis" kekurangan konsistensi dalam liturgi? Rasanya tidak. Perayaan Jumat Agung adalah Perayaan Sabda, saat itu tidak ada Perayaan Ekaristi, jadi logikanya tidak ada salahnya bila awam juga berperan. Dalam Ekaristi memang harus imam yang mewartakan Injil dan menyampaikan homili. Bila ada imam saat perayaan Jumat Agung, maka ia mengambil peran Kristus. Dan masuk akal bila saat itu kleruslah menyampaikan homili. Menurut pedoman yang telah kita kutip di atas no. 66, sesudah bacaan Kisah Sengsara harus diadakan Homili. Memang tidak begitu eksplisit disebut harus disampaikan oleh imam.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya