Pewarta Sabda dalam Perayaan Liturgi
  • Satu pemazmur dan umat: Ini cara yang sudah lazim. Seorang pemazmur memimpin umat dalam menanggapi Sabda. Ia terlebih dahulu menyanyikan bagian ulangan (antifon), kemudian umat mengulanginya. Selanjutnya ayat-ayat dilagukan oleh pemazmur itu, dan umat menyambutnya dengan menyanyikan ulangam.

  • Dua pemazmur dan umat: Ini versi lain dari cara pertama dengan gaya sedikit berbeda. Supaya lebih variatif, diperlukan dua pemazmur. Caranya bisa bervariasi: kedua pemazmur menyanyikan dahulu ulangannya, lalu umat mengulanginya. Kedua pemazmur itu sebaiknya mempunyai suara sejenis. Jika berbeda jenis suara pun tak jadi soal, asal terjamin keindahan harmoni suaranya. Selanjutnya kedua pemazmur bersamaan atau bergantian melagukan ayat-ayat, sementara umat menyambut dengan ulangan setiap setelah pemazmur melagukan satu ayat.

  • Koor dan umat: Cara ketiga ini juga pengembangan cara pertama. Untuk lebih menampilkan kebersanaan, maka peran seorang atau dua pemazmur tadi digantikan kelompok koor, jumlah yang lebih besar. Koor ini bisa bernyanyi dalam suara sejenis atau campur. Peran umat tidak berubah, yakni menyelingi dengan menyanyikan bagian ulangannya.

  • Umat dibagi dua kelompok: Pembagian dapat terdiri dari kelompok umat yang duduk di bagian kanan dan kiri, atau deretan depan dan belakang, tergantung pada kondisi tempat perayaannya. Atau bisa juga terdiri dari kelompok laki-laki dan kelompok perempuan atau anak-anak dan dewasa. Ini tergantung dari siapa saja yang hadir. Sejak awal umat bersama-sama menyanyikan ulangan. Kemudian ayat-ayat dilagukan secara bergantian oleh dua kelompok yang sudah ditentukan, diselingi ulangan yang dinyanyikan seluruh umat atau dua kelompok berbarengan.

  • Umat bersama-sama: Ini cara yang paling menunjukkan partisipasi umat secara penuh, karena semua bersama-sama menanggapi Sabda Allah dengan bernyanyi sejak awal hingga Akhir. Mazmur Tanggapan gaya gregorian dari buku Graduale Romanum bisa dijadikan contoh atau bahkan langsung digunakan jika sesuai dengan yang diperlukan.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya