Pewarta Sabda dalam Perayaan Liturgi

Cukuplah dibaca: "Bacaan dari Kitab atau Surat ..." Kata-kata "Bacaan Pertama atau Kedua" tak perlu dibacakan, karena itu hanya petunjuk judul bagian Misa, seperti halnya Doa Pembuka, Doa Syukur Agung, Komuni, dsb. Kata "pembacaan" juga kurang tepat karena bukan merupakan bentukan kata Indonesia yang benar (pembacaan adalah segala hal yang terkait dengan proses membaca). Yang lebih terasa benar adalah "bacaan" yang diambil atau dikutip dari Kitab tertentu. Tulisan bercetak miring tidak perlu dibaca. Ayat-ayat juga tidak perlu dibacakan, karena bacaan untuk Misa itu sudah disunting, disesuaikan untuk keperluan liturgis, tak persis sama dengan Alkitab.

Ada yang beralasan: itu perlu untuk dicatat oleh anak-anak yang mendapat tugas dari sekolah. Kebiasaan semacam itu malah menyuburkan paham bahwa liturgi gampang sekali ditunggangi atau dimanfaatkan untuk macam-macam kegiatan non-liturgis. Beban Misa jadi terlalu berat. Liturgi terasa kurang mengalir, karena diganggu aneka hal yang tak liturgis, tak mendukung pula.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya