Pewarta Sabda dalam Perayaan Liturgi
  • Artikulasi atau pengucapan kata. Umat ingin mendengar Sabda, dan bukannya hanya gaung suara. Karena itu cara pengucapan harus tepat dan betul. Bila pembaca menggunakan mikrofon, maka ia harus paham akan pengaturan jarak mulut dengan mikrofon, agar dapat menghasilkan suara yang jelas, cukup keras, dan bersih. Semua itu membutuhkan latihan.

  • Membaca lambat kata demi kata. Kadang-kadang sesudah satu barus kalimat atau penggalan, sebaiknya ada jeda satu atau dua detik supaya isi bacaan lebih diresapikan oleh pendengar.

  • Volume suara. Harus cukup keras sesuai dengan besarnya ruangan dan jumlah pendengar. Pembaca hendaknya menjaga, agar volume suaranya cukup stabil dan tidak melemah sepanjang pembacaan itu.

  • Tekanan suara. Supaya bacaan dapat menarik perhatian, kita harus memperhatikan alun suara dan tekanan, sebab bacaan dengan suara yang monoton pasti akan segera membosankan pendengar.

  • Selain itu beberapa hal praktis perlu diperhatikan saat membaca: tidak dapat dibenarkan bahwa seorang lektor membacakan teks yang tidak dipelajari sebelumnya. Pembaca sebaiknya bertempat tidak jauh dari mimbar. Hendaknya ia berpakaian bersih dan maju ke mimbar pada waktunya, tanpa menghambat kelancaran upacara.

  • Dalam membaca hendaknya lektor berkontak dengan umat; membaca dengan tenang, berwibawa, dengan suara yang cukup keras dan ucapan yang jelas, dengan pengertian yang tepat dan dengan hasrat untuk mewartakan Sabda Tuhan, sehingga seluruh umat yang hadir dapat menangkap dan mengimani Sabda Tuhan.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya