Misdinar dalam Perayaan Liturgi

PUMR no. 276 menyebutkan bahwa pendupaan merupakan ungkapan hormat dan doa sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Suci. Dalam setiap bentuk Misa boleh digunakan pendupaan:

a. Selama perarakan masuk;
b. Pada permulaan Misa untuk menghormati salib dan Altar;
c. Waktu perarakan dan pewartaan Injil;
d. Sesudah roti dan anggur disiapkan di Altar, bahan persembahan, salib dan Altar didupai; juga imam dan umat;
e. Waktu Hosti dan Piala diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing.

Menurut PUMR no. 277, sesudah mengisi pedupaan, imam memberkatinya dengan membuat tanda salib di atasnya, tanpa mengatakan apa-apa. Sebelum dan sesudah pendupaan, petugas membungkuk khidmat ke arah orang atau barang yang didupai, kecuali dalam pendupaan Altar dan bahan persembahan untuk Ekaristi. Pendupaan dilaksanakan dengan mengayunkan pedupaan ke depan ke belakang.

Pedupaan diayunkan 2 x 3 kali untuk penghormatan:

a. Sakramen Mahakudus, relikui salib suci dan patung Tuhan yang dipajang untuk dihormati secara publik;
b. Bahan persembahan
c. Salib Altar, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan umat

Pedupaan diayunkan 1 x 3 kali untuk penghormatan relikui dan patung orang kudus yang dipajang untuk dihormati secara publik. Semua ini didupai hanya pada awal Perayaan Ekaristi, sesudah pendupaan Altar. Altar didupai dengan serangkaian ayunan tunggal sebagai berikut:

a. Kalau Altar berdiri sendiri, imam mendupai Altar sambil mengelilinginya
b. Kalau Altar melekat pada dinding, maka imam mendupai sambil berjalan ke sisi kanan lalu ke sisi kirinya.

Kalau ada salib di atas atau di dekat Altar, maka salib itu didupai sebelum Altar, atau imam mendupai salib pada saat ia melintas di depannya.

Sebelum mendupai salib dan Altar, imam mendupai bahan persembahan dengan mengayunkan pedupaan 2 x 3 kali atau dengan membuat tanda salib dengan pendupaan di atas bahan persembahan.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya