Asisten Imam dalam Perayaan Liturgi

Asisten imam memegang sibori yang berisi Sakramen Mahakudus itu dengan kain piala (purificatorium) yang bersih. Sebaiknya kain piala dipegang sedemikian rupa sehingga tampak menyentuh sibori, menutup jari-jari tangan dan sebagian kain piala terjulur rapi ke bawah. Sewaktu membagikan Komuni Kudus, tangan memegang sibori dengan alas kain piala itu, dan sementara itu tangan kanan kita menerimakan Tubuh Kristus kepada umat.

Ketika asisten imam membagikan Tubuh Kristus kepada umat, asisten imam harus menyapa umat dengan kata-kata "Tubuh Kristus", dan umat menjawab "Amin". Teorinya, umat memang harus menjawab "Amin". Jika umat belum menjawab "Amin", asisten imam tidak harus memberikan Tubuh Kristus itu kepadanya. Untuk menghindari pembagian Tubuh Kristus kepada orang yang belum menerima Komuni Pertama, maka bila umat belum menjawab, entah alasannya apa, asisten imam perlu menunggu dulu dengan memperhatikan wajah dan gerak mulutnya. Tentu saja asisten imam tidak boleh kaku. Misalnya, kalau umatnya memang bisu dan tidak bisa berbicara, asisten imam bisa melihat gerak atau mimik wajahnya yang tentu memperlihatkan jawabannya.

Sesudah membagikan Tubuh Kristus, asisten imam memberikan sibori kepada imam. Kemudian, asisten imam menunggu di samping kiri dan kanan Altar hingga sibori diletakkan kembali dalam Tabernakel. Saat imam meletakkan sibori ke dalam Tabernakel, lalu menutup Tabernakel, imam dan asisten imam ikut berlutut. Sesudah itu, asisten imam berdiri di hadapan Altar, memberi hormat dengan membungkuk, lalu kembali ke tempat masing-masing.

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya