Asisten Imam dalam Perayaan Liturgi

perarakan masuk menuju altarSeorang asisten imam dalam perarakan masuk diharap memiliki tata gerak liturgis: berjalan tenang, mengarah ke depan dengan tangan terkatup di dada.

Untuk perarakan masuk menuju Altar ialah sebagai berikut:

  1. Pelayan yang membawa pedupaan berasap, bila dipakai dupa.
  2. Pelayan-pelayan yang membawa lilin bernyala, mengapit akolit atau pelayan lain yang membawa salib.
  3. Para akolit dan pelayan-pelayan yang lain (asisten imam)
  4. Lektor; dapat membawa Kitab Injil (Evangeliarium), bukan buku Bacaan Misa (Lectionarium), yang sedikit diangkat.
  5. Imam yang memimpin Misa.

Kalau dupa digunakan, sebelum perarakan mulai, imam membubuhkan dupa ke dalam pendupaan dan memberkatinya dengan tanda salib tanpa mengatakan apa-apa (PUMR, 120).

Menurut PUMR no. 162 disebutkan seperti ini: "... Pelayan-pelayan seperti ini (maksudnya asisten imam) hendaknya tidak menghampiri Altar sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan". Jadi, asisten imam maju ke panti imam setelah imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan.

Sesuai dengan PUMR no. 162, asisten imam hendaknya tidak menghampiri Altar sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Akan tetapi, bila memang sungguh dibutuhkan untuk membantu imam mengambil sibori yang berjumlah sangat banyak dari tabernakel, satu atau dua asistem imam (bukan semua asisten imam) bisa naik ke panti imam untuk membantu tugas tersebut jika diminta oleh imam selebran. Setelah melaksanakan tugas tersebut, asisten imam tidak berdiri di panti imam tetapi kembali ke tempatnya semula atau masuk ke sakristi sehingga tidak menimbulkan kesan adanya "konselebrasi".

Sumber: Katekese Liturgi 2016 - Keuskupan Surabaya