Lain-Lain

Bahan Bacaan Kitab Suci: Yes 58:6-10

Konteks

Nabi YesayaSepulangnya umat Israel dari pembuangan, Yerusalem belum dibangun lagi setelah dihancurkan tentara Babilon (lih.60:10;61:4). Maka kendati umat Israel sadar akan karya agung Allah, keadaan mereka yang melarat itu mudah sekali menimbulkan pertanyaan: apa gunanya ibadat dan perbuatan-perbuatan saleh lainnya.

Setelah didahului tiga nubuat (56:9-12; 57:1-6 dan 57:7-13), Trito-Yesaya menubuatkan warta keselamatan (57:14-21), hal berpuasa yang berkenan di hadapan Allah (58:1-12), dan perihal hari Sabat (58:13-14). Khususnya dalam 58:6-10, pengarang merenungkan tentang puasa sebagai kebiasaan yang saleh. Hukum Taurat hanya mewajibkan berpuasa pada hari raya Pendamaian (Im 23:26-32). Tetapi pada saat-saat tertentu orang Yahudi memperbanyak jumlah hari puasa, sebagai peringatan akan peristiwa yang menyedihkan, maupun untuk memohon belas kasih Tuhan. Di sinilah Trito-Yesaya melihat gejala formalisme agama yang dikatakan olehnya sebagai penghalang besar bagi karya agung Allah. Maka ia mengusulkan pengembangan arah hidup religius yang lebih mendalam dari sekedar ritual saja: bahwa praktek keagamaan harus dijiwai dengan semangat batiniah, bahwa berpuasa bukanlah tujuan akhir hidup religius (58:3-4), dan bahwa puasa yang benar itu lebih tertuju pada kepekaan serta solidaritas terhadap sesama.

 

Ulasan

Dikatakan bahwa yang dikehendaki oleh Allah adalah puasa yang diwujudkan dalam tindakan membebaskan orang-orang yang terhimpit dan tertindas, yang lapar, yang miskin, yang telanjang, dan perhatian terhadap saudara sendiri (ay.6-7).. Kalau hal itu dilakukan maka ‘terangmu akan terbit (ay.8), artinya: keselamatan -kebenaran-keadilan akan hadir menjadi barisan depan, dan kehormatan-kemuliaan akan menjadi barisan belakang. Ungkapan dalam ay.8 ini jelas mengacu pada tiang awan yang membimbing umat Israel keluar dari Mesir (lih.Kel 13:21-22). Dengan kata lain, Tuhan sekali lagi akan mengantar umatNya yang berada dalam suasana kegelapan pembuangan Babel untuk menuju terang masyarakat merdeka. Kisah perjalanan menjadi suatu kiasan pembaharuan yang kini dikerjakan oleh Tuhan. Tuhan hadir dalam proses pembaharuan itu: di mana orang menanyakan kehendak- Nya, Ia menjawab; dan di mana orang berseru minta tolong, di situ Ia berada (ay.9a). Janji dan syarat pemenuhan janji ditujukan kepada bangsa Israel sebagai satu umat, tetapi masing-masing warganya bertanggungjawab untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Syarat yang memungkinkan umat untuk memperoleh berkat diungkapkan: bila kuk yang lama telah diangkat, janganlah dipasang kuk yang baru. Di manakah ada persekutuan umat Allah jika orang-orang miskin atau kaum lemah diejek dan disisihkan? Nabi menandaskan agar umat beriman menunjukkan solidaritasnya kepada orang-orang yang berkekurangan: apa yang umat beriman sendiri inginkan, itulah yang juga harus mereka bagikan agar hati orang-orang tertindas terobati (ay.9b-10).

 

Amanat

  • Ketika berada dalam kesulitan manusia suka datang kepada Allah dengan berbagai macam peribadatan: persembahan, doa, dan puasa. Tetapi seringkali terjadi orang tidak menyadari bahwa dengan praktek-praktek kesalehan tersebut ia ingin berjasa kepada Allah agar kepentingannya sendiri diperhatikan olehNya. Bagi orang-orang seperti itu agama bukanlah jalan persatuan  dengan Allah  dan sesama manusia, melainkan merupakan sarana untuk memenuhi kepen­tingannya sendiri.
  • Seringkali ada orang yang hidup tekun dalam doa dan puasa namun merasa bahwa Allah itu jauh dan tidak mendengar permohonan­nya. Terhadap kerisauan demikian ini kiranya teks Yesaya ini memberi petunjuk yang jelas, yakni bahwa usaha kesalehan tidak akan bisa memaksa Allah untuk bertindak. Dan bahwa segala usaha umat beriman sungguh berkenan kepada Allah  hanya apabila  mereka peka akan kebutuhan sesamanya, terutama kaum lemah yang tertindas.
  • Pesan teks PL ini jelas: manusia harus saling bersikap murah hati, sebagaimana dikehendaki Tuhan. Adalah Tuhan sendiri yang menjadi  pedoman  manusia:  ia harus memancarkan kebaikan Tuhan; dan juga ada­lah Tuhan sendiri yang menjadi dasar untuk manusia bersikap murah hati kepada sesamanya. Inilah cara  memuliakan Allah  dan praktek kesalehan yang benar. Jika  saja  orang  rela  membagikan  apa  yang  ada padanya kepada mereka yang berkesusahan, dan membela sesama yang ter­aniaya, pasti harapan akan suatu masyarakat yang adil dan makmur  akan tercapai.  Usaha perse­orangan bisa memberi kontribusi pada usaha bersama untuk memperjuangkan keadaan masyarakat yang lebih adil.
  • Dalam menjalankan hidup keagamaan, kita perlu waspada agar tidak terjebak dalam formalisme sebagaimana diprihatinkan oleh Trito-Yesaya. Dalam kehidupan beragama saat ini tak jarang kita saksikan betapa meriah, megah,  dan semaraknya orang merayakan pesta keagamaan, tetapi pada  saat yang bersamaan masih banyak rakyat kecil yang menjadi korban ketidakadilan,  miskin  dan tersisihkan.  Di satu pihak terjadi pengagungan terhadap Tuhan, tetapi di lain pihak Tuhan dianggap seolah-olah tidak ada dalam ketegaan mengorbankan sesama lewat fitnah, intimidasi, teror dan tindak kekerasan. Ada jurang  yang lebar  antara nilai luhur  yang ideal  dengan nilai aktual yang dihayati; antara tutur kata dan perbuatan! Yang dihidupi secara riil  adalah bagaimana  kepentinganku bisa terwujud dengan kuasa, wewenang dan jabatan; sementara yang dikhotbahkan dan diupacarakan adalah penanaman nilai-nilai seperti “kerukunan”, “keadilan”, “perdamaian”, tetapi itu semua hanyalah formalistik dan slogan belaka.

 

Hubungan dengan Injil

Teks Yes 58:6-10 ini dibacakan bersama dengan Mat 3:13-16 pada misa Minggu Biasa V thn A. Kiranya gagasan Trito-Yesaya di situ mendukung gagasan terang dari perikop Matius tersebut. Gagasan untuk berbuat baik dengan memperjuangkan keadilan sosial dalam teks Yes bertujuan agar  bangsa Israel  bisa keluar dari kesulitan  besar  yang menimpa  mereka. Dalam teks Mat gagasan ini mempunyai nilai positif: “menghantar orang untuk memuliakan Bapa di sorga”. Para murid Yesus pun dalam hal ini menyandang aspek misioner dengan menjadi terang dalam dunia yang  gelap.  Hal ini  sejalan  dengan  pribadi  Yesus  sendiri yang digambarkan sebagai terang (Yoh 8:12). Terang yang  tidak hanya  tertutup untuk dirinya sendiri saja, melainkan juga memancarkan cahayanya bagi orang lain yang membutuhkannya.

Oleh: KPKS St. Hieronimus Wil VIII, Paroki St. Aloysius Gonzaga Surabaya

ooOoo