Lain-Lain

Bunda Penolong AbadiTujuan gambar-gambar kudus ini sudah jelas untuk membantu kita manusia dalam merenungkan Kristus, karya-karya-Nya dan para kudus-Nya agar kita boleh dibawa semakin dekat kepada-Nya dan menjadi lebih sadar akan persekutuan kita dengan para kudus. Sebagai contoh, kita semua memiliki gambar atau foto orang-orang yang kita kasihi, baik mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Saya ingat saya pernah melihat foto-foto kakek-nenek buyut saya dan juga tiga kakek-nenek saya yang semuanya tidak pernah saya kenal atau jumpai secara pribadi karena mereka telah meninggal sebelum saya dilahirkan. Mereka yang saya kasihi ini, yang saya kenal hanya lewat foto-foto dan cerita-cerita tentang mereka, merupakan kenangan yang hidup bagi saya. Ikatan kekeluargaan saya dengan mereka semakin dipererat. Saya dapat lebih sadar akan sejarah keluarga yang merupakan bagian dari hidup saya. Betapa terlebih lagi ketika saya memandangi foto nenek saya yang terkasih, yang saya kenal, tetapi sekarang telah berpulang ke rumah Bapa kita. Benar, foto-foto itu bukanlah pribadi sesungguhnya, tetapi foto-foto tersebut mengingatkan saya akan pribadi yang diwakilinya dan kenangan akan pengalaman hidup yang saya lewatkan bersama pribadi tersebut menjadi lebih nyata.

Sama persis halnya dengan patung atau gambar-gambar religius. Lagi, St. Yohanes dari Damaskus menyatakan, "Keindahan dan warna gambar-gambar merangsang doaku. Mereka merupakan pesta bagi mataku, sebagaimana gambar dari suatu pemandangan alam merangsang hatiku, untuk memuja Allah."

Dalam perjalanan sejarahnya, Gereja telah berperang melawan penafsiran yang salah terhadap larangan penyembahan berhala dalam Perintah Pertama. Pada tahun 730, Kaisar Leo III, yang memerintah sisa-sisa Kekaisaran Romawi bagian Timur, memerintahkan pemusnahan ikon-ikon, yang merupakan bagian dari tradisi liturgi Timur. Tindakannya itu didasari oleh penekanan yang berlebihan terhadap keilahian Kristus yang sayangnya berupa tindakan penghinaan terhadap penghormatan yang tulus kepada gambar-gambar religius. Pemusnahan ikon-ikon atau gambar-gambar kudus disebut ikonoklasme dan dikutuk oleh Bapa Suci di Roma. Sesudahnya, pada tahun 787 Konsili Nisea membela penghormatan kepada gambar-gambar kudus dengan menyatakan, "Karena, semakin sering seseorang merenungkan gambar-gambar kudus ini, semakin sukacita ia dibimbing untuk merenungkan pribadi asli yang mereka wakili, semakin pula ia ditarik kepadaya dan diarahkan untuk memberinya... penghormatan yang khidmad..." Karena "penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya" (St. Basilius), dan "siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya."

Fr. Saunders adalah Pastor di paroki Our Lady of Hope Potomac Falls.

Sumber: "Straight Answers: Icons and Sacred Images" by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc.; Copyright 2003 - Arlington Catholic Herald. All rights reserved, www.catholicherald.com