Ilustrasi

Pemain AkrobatAda seorang pemain akrobat yang sangat terkenal karena keahliannya berjalan di atas tali. Pada suatu hari ia mengadakan pertunjukan yang menantang nyali. Ia akan berjalan di atas bentangan tali baja, menyeberangi air terjun Niagara yang tingginya 160 kaki dari permukaan tanah, tanpa jaring pengaman.

Tentu saja orang berbondong-bondong datang ke lokasi, ingin melihat sendiri pertunjukan yang akan memacu adrenalin mereka ini. Tak lupa juga beberapa wartawan datang pula untuk menyiarkan tontonan spektakuler bagi media masing-masing. Berhasil atau tidak, keberanian sang pemain akrobat sudah patut mendapatkan perhatian orang banyak.Maka akhirnya dimulailah pertunjukan mendebarkan itu. Sang pemain akrobat dengan tenang dan langkah pasti sedikit-demi sedikit menyusuri tali baja yang terbentang dari satu tebing ke tebing di seberangnya di atas air terjun Niagara itu. Namun yang membuat orang-orang menahan napas adalah ternyata, sang pemain akrobat bukan hanya sekedar berjalan di atas tali baja itu, ia mendorong sebuah kereta yang berisi sekantong semen. Bayangkan keseimbangan yang harus ia jaga sepanjang perjalanan menyusuri tali baja itu.

Konsentrasi tinggi dibutuhkan oleh si pemain akrobat, karena kesalahan sekecil apapun beresiko sangat tinggi. Ia akan langsung terjun dari ketinggian dan akan disambut oleh gulungan air terjun yang pasti akan langsung melahap tubuhnya. Namun, resiko itu tak membuatnya panik. Selangkah demi selangkah ia berjalan di atas desauan air terjun di bawahnya sambil tetap mendorong kereta itu.

Dan akhirnya….sukses! Sang pemain akrobat tiba di tebing seberang dengan selamat, diiringi tepuk tangan meriah dan seruan kagum dari penonton. Seorang wartawan langsung mendekati si pemain akrobat.

Wartawan (W): “Hebat! Anda sudah berhasil. Bagaimana perasaan anda? Apakah anda tidak merasa takut sama sekali?”, tanya wartawan bertubi-tubi.

Namun alih-alih meladeni pertanyaan si wartawan, pemain akrobat balik bertanya:

Pemain Akrobat (A): “Apa anda percaya bahwa saya bisa melakukan apa saja di atas bentangan tali baja itu?”

W: “Ya. Bahkan anda sudah membuktikannya pada kami semua.”

A: “Apakah anda percaya bahwa saya bisa membawa seseorang menggantikan kantong semen di dalam kereta itu, untuk berjalan bersama saya di atas bentangan tali baja itu?

W: “Ya. Pasti anda mampu”

A: “Kalau begitu naiklah ke atas kereta itu…”

Maka si wartawan pun langsung pucat pasi mendengarnya, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung lari menyelinap ke arah kerumunan orang banyak.

Tiba-tiba, dari kerumunan itu muncul seorang pria yang dengan tenang berkata kepada di pemain akrobat:

Sukarelawan (S): “Saya percaya kepada anda. Ijinkanlah saya untuk mencoba.”

Maka sekali lagi penonton pun heboh. Bahkan banyak di antara mereka yang mulai bertaruh, apakah si pemain akrobat akan berhasil menyeberang bersama kereta dorong yang dinaiki si sukarelawan, ataukah mereka berdua akan jatuh di tengah jalan.

Sementara itu, kantong semen yang tadinya ada di dalam kereta dikeluarkan, dan si sukarelawan menaiki kereta itu untuk menggantikannya. Lalu atraksi mendebarkan pun kembali dimulai. Kini suasana menjadi makin tegang, karena resikonya menjadi berlipat dua. Bila gagal, bukan saja si pemain akrobat akan jatuh, tetapi juga si sukarelawan. Namun demikian, perjalanan mereka menyusuri tali baja tetap mulus hingga kira-kira di pertengahan tali baja yang melintang ke tebing seberang.

Lalu mulailah para petaruh dengan taruhan yang paling besar, dan akan menang jika si pemain akrobat gagal, mencari cara agar uangnya tidak berkurang. Mereka menyelinap di antara kerumunan orang banyak yang sedang fokus pada atraksi di depan mereka, dan diam-diam mengerat tali baja itu. Karena kekencangan tali baja berkurang, maka keseimbangannya pun mulai goncang. Tali lalu menjadi terayun-ayun.

Penonton menahan napas, menyaksikan si pemain akrobat dengan sekuat tenaga berusaha menyeimbangkan diri sambil berteriak pada si sukarelawan:

A: “Berdiri cepat dan peluk bahu saya!”

Namun si sukarelawan yang wajahnya pucat pasi hanya duduk kaku dan terpana di dalam kereta.

A: “Cepat lakukan atau kita berdua akan mati!”

Maka si sukarelawan berdiri pelan-pelan dan keluar dari kereta itu.

A: “Lingkarkan tanganmu ke leherku dan kakimu ke pinggangku.”

Meskipun takut setengah mati, dengan taat si sukarelawan perpegangan dengan erat pada tubuh pemain akrobat.

Detik berikutnya kereta yang tadinya membawa si sukarelawan pun jatuh dari tali baja, jatuh ke bawah, dan hancur berkeping-keping terhempas batu.

Kini sang pemain akrobat, dengan berbekal ototnya yang kuat dan pengalamannya selama bertahun-tahun akhirnya berhasil menyeimbangkan tali baja itu. Maka ia beringsut selangkah demi selangkah melanjutkan perjalanan, dan akhirnya berhasil tiba di seberang dengan selamat. Sementara si sukarelawan yang ketakutan itu bagai anak kecil yang menggendong di punggungnya…

----

Amatlah mudah untuk mengatakan bahwa kita percaya.

Ketika orang memperbincangkan iman, kita dengan yakin berkata bahwa kita mengimani Sang Pencipta kita dengan sepenuh hati dan jiwa.

Memang mudah untuk percaya ketika kita sedang menyaksikan sesuatu yang hebat. Sama seperti wartawan dalam kisah tadi, yang dengan penuh keyakinan, percaya bahwa si pemain akrobat pasti mampu menyeberangkan seseorang melalui tali baja. Namun begitu ia sendiri yang harus mengalaminya….tiba-tiba nyalinya ciut.

Begitu juga kita semua. Saat hidup ini berjalan dengan baik dan normal, kita benar-benar percaya bahwa Tuhan adalah Maha Baik. Ia selalu memelihara kita, Ia takkan meninggalkan kita, dan Ia pasti akan meolong kita. Maka kita pun dengan penuh keyakinan menyerahkan dan memasrahkan diri kita ke dalam tanganNya.

Namun, hidup tak selamanya berjalan mulus bagaikan tali baja yang tanpa penghalang. Setiap waktu bisa saja tali itu goyah, dan mendadak…ketika kita merasa kita sudah di ambang kemenangan….keseimbangan diri kita pun goyah. Malapetaka, dalam bentuk apapun, bisa datang dalam hidup kita tiba-tiba saja. Ketika kita sedang terlena dalam kebahagiaan dan kedamaian, tiba-tiba saja ia menyeruak masuk dalam hidup kita. Saat itu kita pun goyah.

Pertanyaan yang terpenting, bisakah kita pada saat itu benar-benar berpasrah dan berserah kepadaNya? Jangan-jangan kita juga akan seperti si wartawan itu. Ketika kita melihat orang lain yang mengalami, kita bisa menasihati orang itu untuk percaya. Namun ketika kita sendiri yang harus mengalaminya, kita malah lari terbirit-birit.

Iman yang sesungguhnya bukanlah iman saat hidup kita menyenangkan, namun justru pada saat penderitaan datang, saat itulah kita akan tahu seberapa kuat iman kita.

Mari Kita Dukung

Aplikasi Vikep Surabaya Barat (iOS)
Warta Paroki Sekevikepan Surabaya Barat

eKatolik
Alkitab, Kalender Liturgi, Kumpulan Doa, Daily Fresh Juice, Renungan Bahasa Kasih, Jadwal Misa, dll...