Ilustrasi

Kupu-KupuKita tentu sering mendengar cerita bagaimana kupu- kupu terbentuk. Pertama mulai dari ulat kecil , menjadi kepompong dan berubah menjadi seekor kupu- kupu cantik, melalui METAFORFOSIS. Mari kita mencermati kembali metamorfosis KUPU ini, yang dapat juga dipakai sebagai METAMORFOSIS (kelahiran baru) kehidupan setiap manusia.

Fase pertama,
Si ULAT,

Si ulat kecil yang hidup dengan memakan daun. Si rakus menggerogoti daun, sehingga membuat daun berlubang dan akhirnya kering dan mati.

Siapa ulat ini?

Manusia lama kita. Kebiasaan lama kita yang merugikan orang lain. Sifat/ karakter lama, seperti : keras hati, mudah marah, tidak bisa mengampuni, pikiran licik, tak ada penguasaan diri yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Fase kedua,
Si KEPOMPONG,

rupanya Sang Pencipta mengetahui bahwa ulat ini merugikan, apakah Allah mematikan si ulat ? Tidak, Allah maha pengasih dan penyayang. Dia tidak memusnahkan si ulat nakal, tapi Allah memberi kesempatan agar si ulat berubah menjadi lebih baik. Bagaimana? Dengan melapisi si ulat ! Lapis demi lapis, agar si ulat diam dan dibentuk lebih sempurna lagi di dalam kepompong.

Demikian juga Allah, tidak mau mematikan kita, tapi memproses hidup kita agar kita dibentuk menjadi baik dan sempurna sama seperti Allah sendiri.Tahap kepompong ini, seperti masa Pra Paskah, bagaimana kita di dalam kepompong rohani untuk berpantang dan berpuasa, mengalahkan kedagingan kita.

Untuk menjadi seekor kupu-kupu, kepompong harus melakukan perjuangan yang sangat amat berat.

Segala daya dan upaya akan dikerahkan si kupu untuk bisa keluar dari kepompong. Jika kita merasa kasihan dengan perjuangan kupu untuk keluar dari kepompong dan membantunya, si kupu memang akan keluar dengan mudah tapi kita telah membuat cacat si kupu seumur hidupnya karena ia tidak akan pernah bisa terbang dengan sayap yang tidak terlatih sempurna.

Kadangkala kita juga bercucuran air mata, mengapa proses hidup begitu berat untuk membentuk kita menjadi sempurna. Seperti si kupu keluar dari kepompong dengan usaha yang berat, tetapi itu untuk kebaikannya agar dia bisa terbang. Demikian juga kita, berjuang mengalahkan ego/ kedagingan/ sifat/ kebiasaan buruk. Jika kita menang, Tuhan akan meninggikan kita.Mintalah kekuatan pada Tuhan agar mampu dalam melewati PROSEDUR ini.

Fase ketiga,
Si KUPU cantik,

Si kupu keluar dari kepompong dan memiliki sepasang sayap. Dia terbang kesana kemari membantu penyerbukan bunga agar berbuah.

Seperti kupu, kita akan mendapatkan peninggian jika kita berhasil keluar dari kepompong ujian. Sepasang sayap akan membawa kita terbang tinggi. Sayap adalah talenta/ karakter/ jiwa yang baru. Gunakan "SAYAP" rohani untuk terbang membantu " PENYERBUKAN ROHANI" pelayanan agar sekitar kita berbuah. Kita adalah POLLINATOR Allah. Marilah kita berdoa dan melayani bunga- bunga jiwa yang satu ke yang lain, agar jiwa itu bertumbuh dan berbuah bagi Allah.

Jadi sampai di Fase ”Kematangan Rohani” manakah kehidupan kita?

  1. ULAT,
    mintalah Tuhan untuk membungkus setiap tabiat buruk dalam kepompong Ilahi.

  2. KEPOMPONG,
    rendahkanlah diri kita di hadapanNya, jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Mintalah kekuatan dan tuntunan dariNya dalam melalui semua proses kehidupan.

  3. KUPU - KUPU,
    karakter yang lebih baik, siap terbang tinggi menjadi POLLINATOR rohani Allah. Tuhan telah memberikan kita sepasang sayap rohani ( karakter baru, talenta baru dan kehidupan yang baru) agar kita dapat terbang menjangkau jiwa- jiwa yang membutuhkan pertolongan agar dapat berbuah.

    Masa pra paskah 40 hari/fase kepompong sudah kita lewati,

    Hari ini jiwa-jiwa baru telah lahir.

    Matikanlah Ke- ULAT-an rohani kita !!!

    Terbanglah tinggi bagi kemuliaan Allah,

    meninggalkan jejak kasih dari bunga jiwa satu ke yang lain.

    Amin.

Sumber: kiriman via email dari Sel Franciscus Xaverius (tak diketahui dari paroki mana)