Hagiografi

St. ClaraMinggu Palma, 17 Maret 1212. Uskup Asisi meninggalkan altar untuk menyerahkan sebatang daun palma kepada seorang gadis bangsawan berusia delapan belas tahun, yang karena malu-malu, tetap berada di tempatnya. Anak gadis ini adalah St. Clara. Ia sudah belajar dari St. Fransiskus Asisi untuk membenci hal-hal duniawi, dan diam-diam memutuskan untuk hidup semata untuk Tuhan.

Malam itu juga Clara, bersama seorang pendamping, melarikan diri ke Gereja Portiuncula. Di sana St. Fransiskus menyambutnya bersama biarawan lainnya. Di depan altar Bunda Maria, St. Fransiskus memotong rambut Clara, memberinya pakaian ‘tobat’ yang terbuat dari sehelai karung goni, bersama seutas tali sebagai ikat pinggangnya. Dengan demikian resmilah Clara menjadi mempelai Kristus.

Clara lalu mendirikan ordonya di sebuah rumah kumuh di luar Asisi. Adiknya, masih empat belas tahun umurnya, mengikuti jejaknya. Dan tak lama kemudian, disusul oleh ibunya, serta beberapa wanita bangsawan lainnya. Mereka bertelanjang kaki, dan mengamalkan matiraga abadi, hidup dalam keheningan, dan kemiskinan.

Ketika tentara Frederick II melanda lembah Spoleto, mereka hendak menyerang biara St. Clara yang terletak di luar Asisi. St. Clara cepat-cepat membawa Sakramen MahaKudus di dalam monstrans lalu meletakkannya di atas pintu gerbang, menghadap ke arah musuh. Lalu ia berlutut di depannya, dan berdoa: “Ya Tuhan, jangan biarkan mereka—jiwa-jiwa yang berlindung padaMu—jatuh ke tangan si jahat”. Sebuah suara terdengar dari Hosti itu, “Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku”. Tiba-tiba para tentara itu menjadi panik dan lari ketakutan. Maka selamatlah biara itu.

Selama 28 tahun didera penyakit, Ekaristi Kudus adalah satu-satunya penyangga hidup St. Clara; dan memintal taplak untuk altar adalah pekerjaannya. St. Clara meninggal dunia pada tahun 1253 ketika Sengsara Yesus sedang dibacakan, kemudian Bunda Maria beserta para malaikat membawanya kepada kemuliaan surgawi.

Refleksi:

  • Di jaman kemewahan dan pergeseran gender, biarawati-biarawati St. Clara masih tetap melaksanakan kaul kemiskinan, dan mewartakan kemiskinan Yesus Kristus lewat cara hidup mereka sehari-hari.