Hagiografi

24 Januari

St. Timotius, Uskup dan MartirTimotius adalah seorang murid dari St Paulus. Ia dilahirkan di Listra, di Asia Kecil. Ibunya adalah seorang Yahudi, tetapi ayahnya seorang kafir, dan meskipun sejak kecil Timotius telah membaca Kitab Suci, ia tidak pernah disunat sebagai seorang Yahudi. Saat St. Paulus mengunjungi Listra, Timotius muda bersama dengan ibu dan neneknya dengan penuh semangat menjadi pemeluk iman Kristiani. Tujuh tahun kemudian, ketika Rasul Paulus kembali mengunjungi negara itu, anak itu telah tumbuh menjadi pria dewasa. Semua orang di sekelilingnya menghargai kebaikan hati, kesederhanaan, dan semangatnya yang tinggi. Bukan itu saja, orang-orang suci di sana menubuatkan hal-hal besar yang akan dibuat oleh pemuda yang semangatnya membara ini.

St. Paulus langsung dapat melihat betapa pemuda ini amat tepat sebagai pewarta Injil. Timotius pun segera ditahbiskan, dan sejak saat itu ia menjadi rekan kerja yang paling dicintai dari antara para rasul. Bersama St. Paulus, Timotius mengunjungi kota-kota di Asia Kecil dan Yunani; kadang ia mendahului di depan sebagai pembawa berita, di lain kesempatan ia tetap tinggal di tempat yang baru mereka singgahi untuk meneguhkan iman beberapa Gereja yang baru berdiri. Akhirnya ia diangkat menjadi Uskup pertama Efesus, dan di sini ia menerima dua surat yang menyandang namanya; yang pertama ditulis dari Makedonia, yang kedua dari Roma, di mana Paulus dari penjara melampiaskan hasrat kerinduannya untuk melihat "anaknya yang terkasih", jika mungkin, satu kali lagi sebelum kematiannya.

St. Timotius sendiri, tidak berapa lama setelah kematian St. Paulus, memenangkan mahkota kemartirannya di Efesus. Sebagai seorang anak, Timotius dulu senang membaca Kitab Suci, kini pada jam terakhirnya di dunia, ia akan mengingat kata-kata perpisahan dari bapa rohaninya, "attende lectioni - bertekunlah dalam membaca (Kitab Suci)."

  • Saat menulis kepada Timotius—hamba Allah yang setia dalam pencobaan, dan seorang uskup yang cukup berhasil selama sekian tahun—St. Paulus menganggapnya sebagai seorang anak, dan ia selalu memperhatikan ketekunannya dalam iman dan takwa. Surat-suratnya dipenuhi dengan instruksi pribadi mendetail untuk tujuan ini. Dari situ nampaklah bahwa Rasul Paulus memberi penekanan yang amat besar terhadap pentingnya menghindari omong kosong yang tak perlu dan membaca Kitab Suci. Ini adalah topik utamanya. Berkali-kali ia mendesak anaknya Timotius untuk menghindarkan diri dari "meleter dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas" [1 Tim 5:13]. Sebaliknya agar ia memegang contoh ajaran yang sehat, untuk menjadi teladan dalam kata dan percakapan, untuk bertekun dalam membaca Kitab Suci, berkotbah dan memberikan nasihat, serta pada ajaran-ajaran Gereja."

Pictorial Lives of The Saints - Verbum