Hagiografi

St. AtanasiusAtanasius lahir di Mesir pada akhir abad ke-3. Sejak muda ia merupakan anak yang saleh, terpelajar dan berpengalaman dalam tulisan-tulisan suci, seperti layaknya orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin dan pembela GerejaNya melawan bidaah Aria. Meski hanya seorang diakon, ia dipilih oleh Bapa Uskup untuk menemaninya ke Konsili Nicea pada tahun 325. Di sana ia menarik perhatian banyak orang dengan pelajaran dan kemampuannya dalam membela iman Kristiani. Beberapa bulan kemudian, Atanasius menjadi Uskup Agung Alexandria, dan selama 46 tahun ia menanggung - seringkali sendirian - seluruh beban atas serangan bidaah Aria.

Ketika Atanasius menolak menerima Arius (penggagas bidaah Aria yang menganggap Putra Allah adalah ‘bawahan’ Allah Bapa) kembali ke dalam Gereja Katolik, sang Kaisar sendiri memerintahkannya berbuat demikian, karena Arius bersumpah bahwa ia selalu percaya pada apa pun yang diimani Gereja. Setelah mengeluarkan segenap daya upaya - namun gagal melunakkan hati Kaisar, sang Uskup Agung akhirnya berdoa dan bermatiraga agar Tuhan mengenyahkan penghujatan yang menakutkan itu dari Gereja.

Akhirnya tibalah hari di mana Arius masuk dengan khidmat ke Gereja Sancta Sophia. Sang penghujat bersama kelompoknya berangkat dengan penuh kegembiraan dan kemenangan. Namun, tepat sebelum ia memasuki Gereja, kematian datang dengan sangat cepat. Atanasius teguh berdiri melawan empat Kaisar Romawi; lima kali dibuang; menjadi tameng atas semua penghinaan, fitnah, dan kesalahan yang dirancang kaum Aria; dan terus-menerus berada dalam bahaya maut. Meskipun kukuh berjuang membela imannya, Atanasius lemah lembut dan rendah hati, menyenangkan dan mampu mengambil hati dalam percakapan, dicintai oleh umatnya, tak kenal lelah dalam tugas maupun doa, dalam penyangkalan diri dan dalam semangat bagi jiwa-jiwa kaum beriman.

Pada tahun 373 hidupnya yang penuh liku berakhir dalam damai. Ia telah mewariskan bagi Gereja iman yang utuh; membela dan menjelaskannya dalam tulisan-tulisan yang kaya dengan pemikiran dan pembelajaran; dalam ekspresi yang jelas, tajam dan agung. Dia dihormati sebagai salah satu Doktor terbesar Gereja.

Refleksi:

  • Menurut St. Agustinus, iman Katolik jauh lebih berharga daripada seluruh harta kekayaan yang ada di bumi; lebih besar dan mulia daripada seluruh milik dan kehormatannya. Iman inilah yang menyelamatkan orang berdosa, memberikan cahaya bagi yang buta, mengembalikan para pendosa, menyempurnakan keadilan, dan merupakan mahkota bagi para martir.