Hagiografi

St. Filipus NeriFilipus Neri dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1515 di Florence, Italia. Ayahnya, Fransiskus Neri, termasuk golongan bangsawan, tetapi keluarganya sendiri hidup miskin. Filipus kecil suka sekali berkelakar dan bertindak seturut kata hatinya. Pada tahun 1533, ketika usianya delapan belas tahun Filipus dikirim ke San Germano, kepada seorang sanak, untuk belajar berdagang. Namun, Ia justru lebih sering menggunakan waktunya untuk berdoa di sebuah kapel di atas bukit. Filipus memperoleh nubuat dalam suatu penglihatan bahwa ia dipanggil untuk merasul di Roma; jadi ia meninggalkan keluarganya dan pindah ke Roma.

Di Roma, Filipus belajar Filsafat dan Teologi selama tiga tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk hidup layaknya seorang pertapa. Suatu ketika, sedang Filipus berdoa di Katakomba St. Sebastianus di jalan Appin Way, sebuah bola api masuk ke dalam hatinya. Pengalaman mistik ini memberinya kekuatan yang luar biasa hingga ia mulai mewartakan Tuhan dengan penuh semangat kepada semua orang. Sejak itu, setiap kali Filipus mengalami suatu peristiwa mistik (persatuan dengan Tuhan secara mendalam), maka hatinya akan berdebar kencang menyebabkan seluruh tubuhnya bergetar. Sesudah Filipus wafat pada tahun 1595, para dokter membedah dadanya. Hati orang kudus itu sedemikian besarnya hingga dua tulang rusuk di atasnya patah dan menonjol keluar. Namun demikian para dokter tidak menemukan adanya tanda-tanda suatu penyakit.

Pada tahun 1548, Filipus membentuk kelompok Persaudaraan Tritunggal Maha Kudus. Kelompok tersebut beranggotakan kaum awam yang menawarkan bantuan bagi para peziarah yang datang ke Roma. Organisasi ini berjalan baik dan kelak menjadi rumah sakit Santa Trinita dei Pellegrini yang terkenal di Roma.

Karena merasakan penggilan yang kuat untuk menjadi imam, Filipus masuk biara dan pada tahun 1551 ditahbiskan menjadi seorang imam. Kemudian Rm. Neri ditugaskan di gereja San Girolamo. Bagi umatnya, Rm. Neri adalah seorang imam yang spontan, tak dapat ditebak, menyenangkan serta penuh humor. Demi pertumbuhan rohani umatnya, Rm. Neri senantiasa menyediakan waktu bagi siapa saja dan kapan saja. Ia memperhatikan mereka dan memberikan dukungan serta nasehat menurut kepentingan mereka masing-masing. Nasehat-nasehatnya itu membawa dampak yang besar sehingga berguna bagi perkembangan gereja secara menyeluruh.

Sukacita Rm. Neri segera memikat hati umatnya, terutama kaum muda. Ia mengadakan kegiatan-kegiatan untuk membimbing hidup kerohanian mereka. Jumlah kaum muda yang bergabung semakin lama semakin banyak, diantara mereka banyak pula yang kemudian tertarik untuk menjadi imam, hingga akhirnya terbentuklah Konggregasi Oratorian. Nama Oratorian dipilih karena mereka biasa berkumpul Esecara teratur di sebuah ruang kecil yang disebut oratory. Rm. Neri dan Oratorian segera menjadi pusat kehidupan beriman di Roma.

Beberapa penguasa gereja yang iri kepada Rm. Neri merasa terancam dengan berkembangnya gerakan Oratorian. Rm. Neri, yang diperintahkan untuk menghentikan segala kegiatan gerakan tersebut, tentu saja kecewa, tetapi ia menghadapi semua rintangan itu dengan humor, kerendahan hati, dan ketaatan. Akhirnya pada tahun 1575, Paus Gregorius XIII merestui Konggregasi Oratorian dan mengijinkannya untuk melakukan segala kegiatannya kembali.

Suatu hari seorang pemuda bangsawan jatuh sakit dan mendadak meninggal. Ibunya sangat sedih, sebab puteranya belum menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit serta Sakramen Pengakuan Dosa. Ia memohon agar Rm. Neri berdoa bagi puteranya. Rm. Neri mendekati jenazah pemuda itu dan memegang tangannya seraya berkata, "Paulo, Paulo!" Maka pemuda itu pun bangun dan hidup kembali selama setengah jam sehingga dapat menerima kedua sakramen yang amat diperlukan bagi perjalanannya menuju surga.

Pada tanggal 26 Mei 1595, setelah menderita sakit cukup lama, Rm. Neri meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun. Ia dimakamkan di Chiesa Nuova. Seluruh kota Roma berduka. Namun, sekarang kota Roma amat sangat berbeda dibandingkan 60 tahun sebelumnya. Ada iman yang tumbuh dari kota tersebut yang segera menyebar dan mempengaruhi umat Katolik di seluruh dunia. Sebagai ungkapan syukur, Paus menyatakan Rm. Filipus Neri sebagai Rasul kota Roma yang kedua sesudah Santo Petrus.
Rm. Filipus Neri dibeatifikasi pada tahun 1615 oleh Paus Paulus V dan dikanonisasi pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pesta St. Filipus Neri dirayakan setiap tanggal 26 Mei.

Dengan teladan St. Filipus Neri kita semua disadarkan bahwa masing-masing dari kita dipanggil bukan saja untuk menjadi kudus, tetapi juga untuk senantiasa penuh sukacita.

"Santo Filipus Neri, kami bertindak terlalu serius hampir sepanjang waktu. Bantulah kami untuk menambahkan humor dalam pikiran kami - karena humor adalah juga karunia dari Tuhan."

Diringkas dari: Vacare Deo - Agustus 2003