Hagiografi

Santo BonaventuraKesucian dan pembelajaran telah mengangkat Bonaventura menjadi salah satu kebanggaan tertinggi Gereja. Sejak kecil pun ia sudah menjadi sahabat para Santo. Namun sejatinya, Bonaventura adalah seorang biarawan Fransiskan yang miskin dan terlatih untuk hidup dalam kerendahan hati dan kehinaan. St. Fransiskus Asisi lah yang mengilhami namanya: ‘Bonaventura’ karena, setelah berhasil menyembuhkan Bonaventura kecil dari suatu penyakit mematikan, St. Fransiskus menyerukan: “O buona ventura!” atau “Oh keberuntungan (nasib) yang baik!”

Bonaventura juga dikenal sebagai ‘Doktor Malaikat’ berkat semangat cinta ilahi yang ia hembuskan ke dalam setiap tulisannya. Ia adalah sahabat dari St. Thomas Aquinas; dan pada suatu hari St. Thomas bertanya kepadanya dari mana ia mendapatkan pengajaran yang begitu hebat. Bonaventura menjawab dengan menunjuk ke arah salib. Di saat yang lain St. Thomas menemukannya sedang dalam kegembiraan luar biasa saat menulis tentang riwayat hidup St. Fransiskus Asisi, lalu ia berseru: “Biarlah seorang Santo menulis tentang seorang Santo.”

Mereka berdua akhirnya dikukuhkan sebagai Doktor bersama-sama. Bonaventura adalah seorang tamu sekaligus penasihat St. Louis IX (Raja Prancis), serta pembimbing rohani St. Isabella, saudara perempuan Raja. Di usia ke tiga puluh lima Bonaventura diangkat menjadi pemimpin Ordo Fransiskan, dan hanya dengan air mata dan permohonan, ia dapat menghindar dari penunjukan sebagai Uskup Agung York.

Paus Gregorius X akhirnya mengangkat Bonaventura sebagai Kardinal Albano. Ketika mendengar bahwa Paus telah memutuskan untuk menjadikannya Kardinal, Bonaventura diam-diam merencanakan untuk melarikan diri dari Italia. Namun Paus Gregory segera mengirimkan surat panggilan agar ia kembali ke Roma. Dalam perjalanan pulang, Bonaventura mampir ke sebuah biara Fransiskan di dekat Florence untuk beristirahat; dan di sanalah dua utusan Kepausan, yang dikirim untuk menyerahkan surat panggilan itu, menemukan Bonaventura sedang mencuci piring. Ia meminta para utusan itu menggantungkan topi Kardinal yang mereka bawa di pohon dekat situ dan berjalan-jalan di kebun, sementara ia menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Kemudian, selesai dengan tugasnya, dengan amat terpaksa, Bonaventura akhirnya mengenakan topi Kardinal itu, lalu mengikuti mereka.

Bapa Paus mempercayakan kepada Bonaventura untuk menjadi pembicara dalam sesi pertama Konsili Lyons. Kesalehan dan kefasihannya berbicara berhasil memenangkan penyatuan Gereja Timur (Yunani) ke dalam Gereja Katolik. Bonaventura meninggal dunia ketika Konsili masih berlangsung, dan dimakamkan oleh para uskup yang sedang berkumpul di sana, pada tahun 1274.

Refleksi:

  • “Takut akan Tuhan”, kata St. Bonaventura, “menghalangi seseorang untuk memberikan hatinya pada hal-hal yang fana, yang sebenarnya adalah benih-benih dosa.”