Hagiografi

Keluarga Kudus NazaretHari minggu pertama setelah Natal, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Yang kita pestakan adalah Yesus bersama dengan orangtua-Nya, Maria dan Yusuf. Pesta ini tergolong masih baru dibandingkan dengan pesta lain, seperti Natal misalnya yang baru saja kita rayakan.

Pesta Keluarga Kudus, mulanya dirayakan secara lokal pada abad XVII. Kemudian pada tahun 1895, Paus Leo XIII menetapkan perayaan Pesta Keluarga Kudus pada hari Minggu ketiga setelah Epifania. Pada tahun 1971, Paus Benediktus XV meminta Gereja untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus pada hari Minggu dalam oktaf Epifania (Waktu itu masih ada oftaf Epifania). Kemudian Paus Yohanes XXIII (1958 - 1963) yang dikanonisasi pada 27 April 2014 lalu bersama Yohanes Paulus II, memindahkan perayaan Pesta Keluarga Kudus pada hari Minggu setelah Natal yang sampai sekarang kita rayakan.

Gereja tentu memiliki alasan dengan menempatkan Pesta Keluarga Kudus pada hari Minggu setelah Natal (dalam oktaf Natal). Yesus yang dilahirkan oleh Maria yang mengandung dari Roh Kudus menampilkan keluarga menjadi salah satu sarana penting karya keselamatan Tuhan. Ia menghadirkan Anak Allah melalui keluarga kudus ini. Allah memberikan tanggung jawab kepada mereka berdua untuk mendidik, membesarkan dan menghidupi Yesus. Yusuf dan Maria telah melaksanakan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah kepada mereka sampai akhir hayat mereka. Bahkan, Maria mendampingi Putranya sampai wafat di salib.

Melalui Kitab Suci, kita mendapat informasi bahwa keluarga Nazaret adalah keluarga sederhana hidup dalam iman akan Allah. Injil pada hari ini memberikan salah satu ungkapan keluarga beriman ini. Keluarga Yesus pergi dari Nazaret ke Yerusalem untuk mempersembahkan kepada Tuhan Allah apa yang terbaik dalam diri mereka, yakni Anak sulung Yesus Kristus. Inilah persembahan paling berharga dari orangtua. Inilah perayaan iman kepada Tuhan. Mereka menyerahkan dalam penyelenggaraan Ilahi Putra sulung mereka.

Kita yang merayakan Pesta Keluarga Kudus hari ini, tentu mengambil banyak pembelajaran dari keluarga Yesus. Hal yang terpenting adalah bahwa Tuhan Allah memercayakan keluarga kepada kita (yang dipanggil untuk hidup berkeluarga) dan Tuhan juga menganugerahkan keluarga kepada kita semua sebagai tempat di mana kita menimba kekayaan iman dan pembelajaran di segala bidang. Inilah poros penting di dalam keluarga.

Keluarga adalah suatu sekolah tempat pembelajaran segala bentuk ilmu yang tidak pernah tamat, tetapi selalu dibutuhkan sebelum kita menghadap Bapa. Di dalamnya, selalu ada yang harus dipelajari dan dikembangkan untuk hidup beriman dan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Pesta Keluarga Kudus yang sedang kita rayakan, sebenarnya adalah juga pesta keluarga kita masing-masing. Oleh sebab itu, kita patut bersukacita dan bersyukur kepada Allah karena keluarga yang telah dianugerahkan dan bahwa kita punya keluarga. Kita hendaknya jangan menyalahgunakan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita. Tanggungjawab dibutuhkan dari kita atas apa yang telah Allah percayakan tersebut.

Selamat merayakan pesta keluarga kita masing-masing bersama dengan Keluarga Kudus Nazaret: Yesus, Maria dan Yusuf. [Edison Tinambunan]

Disalin dari: RUAH 2014 edisi Oktober - November - Desember 2014 Tahun A / II